Home Nasional Anas: Jika Ada Nama SBY, Saya Akan Pilih

Anas: Jika Ada Nama SBY, Saya Akan Pilih

0

mas anasPOROSNEWS.COM –  Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum memang sudah tidak bersimpatik dengan partai yang pernah diusungnya. Artinya, Anas akan mengacuhkan Demokrat.

Terbukti, ketika menyalurkan suaranya, tersangka kasus penerimaan hadiah terkait pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang itu masih saja menyindir Ketua Umum Partai Demokrat saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Jika ada SBY (dalam surat suara), saya pilih,” kata Anas sebelum menggunakan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 21 yang terletak di Rumah Tahanan (Rutan) Jakarta Timur cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di basement gedung lembaga antikorupsi tersebut, Rabu (9/4).

Namun, usai menggunakan hak pilihnya, Anas mengatakan hal sebaliknya, yaitu tidak memilih SBY atau Demokrat.

“Biasanya orang dan partai yang saya pilih pasti menang. Masalahnya, di daftar tidak ada nama pak SBY jadi tidak jadi saya pilih,” ujar Anas setelah nyoblos.

Seperti diketahui, Anas Urbaningrum akhirnya secara tegas mengibarkan ‘bendera perang’ terhadap Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, SBY.

Semua bermula ketika awak media mempertanyakan mengapa baru menjelang pemilu legislatif (pileg) pada 9 April, membuka dugaan aliran bailout (dana talangan) ke Bank Century yang mengalir ke tim pemenangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009.

Tersangka kasus dugaan penerimaan hadiah terkait proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Jawa Barat, dengan tegas menjawab bahwa memang hendak menyerang SBY.

“Tidak ada rumusnya Anas menyerang Demokrat. Pertama, Anas pernah menjadi ketua umumnya. Kedua, sahabat Anas sedang nyaleg di DPR, DPRD, jadi tidak ada nyerang partai demokrat, tidak ada kamusnya Anas nyerang Demokrat. Tetapi, kalau soal dana Pilres 2009 terkait nyapresnya Pak SBY, ya benar. Jadi kalau dibilang saya menyerang Pak SBY, saya bilang memang iya. Itu hanya untuk meberikan respon apa yang saya alami dari sikap dan tindakan SBY,” tegas Anas usai menandatangani perpanjangan penahanan di kantor KPK, Jakarta, Senin (7/4).

Namun, Anas enggan menjelaskan tindakan SBY yang membuat dirinya marah atau kesal sehingga menyerang balik.

“Yang bertanya lebih tau dari yang ditanya. Oke ya, selamat nyoblos ya, jangan golput,” kata Anas.

Pasca penahanan, Anas memang secara tidak langsung mengatakan bahwa penetapannya sebagai tersangka sangat bernuansa politik.

Hal tersebut tersirat dari kata-kata yang diucapka Anas sebelum digiring ke Rumah Tahanan (Rutan) Jakarta Timur cabang KPK, yaitu sempat mengucapkan terimakasih kepada SBY.

“Saya bertrimakasih besar pada pak SBY mudah-mudahan peristiwa ini punya arti, punya makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014,” ujar Anas yang terlihat mengenakan rompi tahanan KPK berwarna orange, pada 10 Januari 2014.

Sebelumnya, dikediamannya Anas juga sudah mengisyaratkan bahwa penetapan tersangka dirinya bernuansa politik.

“Proses pemberian gelar saya sebagai tersangka bersamaan dengan dinamika politik internal Demokrat yang sangat tinggi dan intensif. Saya tidak ingin katakan sprindik (surat perintah penyidikan) ini sprindik politik,” ujar Anas sebelum memenuhi panggilan KPK, pada Jumat (10/1) pagi.

Anas mengingatkan perihal pidato politik SBY yang dianggapnya sangat momumental dari Jeddah, Arab Saudi. Menurutnya, pidato yang dibacakan dari tanah yang sangat suci itu menegaskan kepada KPK perihal kasus hukum yang sama sekali menjerat dirinya.

“Beliau (SBY) sedang resah karena elektabilitas Demokrat turun sudah sampai angka sos. Beliau kembali ke Jakarta dan ada peristiwa penting pengambil alihan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) partai ke Dewan Majelis Tinggi. Poinnya, konsen menghadapi masalah hukum. Yang saya tahu status saya sebagai terperiksa, belum saksi apalagi tersangka,” ujar Anas.

Dilanjutkan, ungkap Anas, dengan adanya peristiwa penting, yaitu pemboncoran draft sprindik karena baru di tandatangan beberapa Pimpinan KPK.

Menurut Anas, belum pernah ada dalam sejarah sprindik yang bocor atau sengaja dibocorkan.

“Dalam proses penyidikan kasus saya yang saya tahu gratifikasi mobil harier. Tetapi, kemudian berkembang luas termasuk Kongres Demokrat,” ungkap Anas.

Ditambah lagi, Anas mengungkapkan bahwa ada seorang yang layak dipanggil sebagai saksi. Tetapi, KPK menghindari memanggil orang yang diduga mengacu pada Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) tersebut. (PN/BST)

 

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.