Home Nasional Sarbini: Politik Uang Ibarat “Kentut”

Sarbini: Politik Uang Ibarat “Kentut”

0

sarbini hanuraPOROSNEWS. COM – Mantan Ketua Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) yang juga caleg DPR RI Partai Hanura, Sarbini mengakui kontestasi dan persaingan dalam pemilihan umum legislatif (pileg) berjalan dengan sengit.

Pertarungan bukan hanya terjadi antar partai politik peserta pemilu, namun persaingan keras juga terjadi di internal partai politik.

“Kalau persaingan berjalan dan berlangsung fair tidak jadi masalah,” kata caleg nomor urut 4 dari daerah pemilihan DKI Jakarta III saat dihubungi PorosNews. Com, Minggu (13/4).
Dengan latar belakang aktivis tentu saja Sarbini mengalami keterbatasan modal kapital. Satu-satunya modal yang dimilikinya adalah modal sosial, yaitu modal perkawanan dan jaringan yang sudah dirajut olehnya sejak masa Orde Baru, hingga reformasi.

Dalam berkampanye Sarbini juga hanya mengajak warga berdialog, menjelaskan kondisi riil yang dihadapi bangsa, melakukan pencerahan kepada pemilih dan menghindari praktik ‘money politic’. Namun, rupanya metode pencerahan dan dialektiga yang diterapkan olehnya tidak mampu membendung arus serangan fajar yang dilakukan oleh rival politiknya.

Alumnus Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) tersebut mengaku mendapat banyak laporan dari tim relawan yang ia bentuk.

“Banyak, ada banyak sekali laporan yang sudah masuk dan saat ini sedang kita rekap dan akan kita serahkan kepada pengawas penyelenggara pemilu,” sambungnya.

Dibeberapa titik di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat Sarbini mengaku kaget, sebab ia menemukan beberapa orang caleg yang tidak pernah turun ke lapangan untuk menyapa pemilih, namun memperoleh jumlah suara signifikan. Selidik punya selidik ternyata caleg tersbebut melakukan praktik politik uang beberapa jam sebelum dihelatnya pileg.

“iya ini kan masuk dalam kategori pelanggaran pemilu. Dibeberapa titik, mereka bermain dengan rapi. Politik uang saya ibaratkan seperti ‘Kentut’ tak bisa dilihat wujudnya tapi bisa dirasakan bau dan imbasnya,” tambah Sarbini.

Masih kata Sarbini, jika berkaca dari pelaksanaan pemilu ke pemilu, penegakan sanksi atas pelaku ‘money politic’ amat rendah. Bahkan dibeberapa daerah, karena minim bukti pelaku pidana politik uang harus bebas atas nama hukum.

Terkait dengan hal tersebut, Sarbini amat menyayangkan kinerja dan performa Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang dinilai tumpul dalam melakukan pengawasan.

“Saya yakin, baik Bawaslu dan Polisi sudah mengetahui hal tersebut. Tapi yang jadi persoalan apakah mau mereka menindak pelanggaran tersebut. Praktik politik uang ini melibatkan banyak pihak. Kedepan bagi pelaku money politic sanksi yang diberikan harus tegas, jika perlu dicoret sebagai peserta pemilu,” tutupnya. (PN/Jal)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.