Home EKONOMI Bisnis Geliat Pemilu dan Harapan Investor

Geliat Pemilu dan Harapan Investor

0

investor sahamPOROSNEWS.COM  –  Sehari setelah pemilu legislatif (pileg) diselenggarakan, IHSG rontok 3,2% walau bursa saham Asia (dari Shanghai ke Manila) umumnya menguat.

Kurs rupiah melemah dari 11.350 per US$ ke 11.450. Investor jelas tidak puas dengan hasil sementara pileg, di mana dari 12 partai politik yang bersaing, tidak ada satu pun yang bisa meraih lebih dari 20% suara pemilih–semuanya di bawah persyaratan 25% untuk bisa mengajukan calon presiden sendiri.

Hasil sementara pileg memukul optimisme investor bahwa PDIP (sebagai partai pengusung capres Joko Widodo yang popularitasnya tertinggi di antara para potensi capres) akan meraup 27%-30% suara pemilih–target yang (jika tercapai) bisa memperbesar kans Jokowi untuk memenangkan pilpres dalam satu putaran, yang nantinya bisa memuluskan pembentukan pemerintah koalisi pemerintahnya tanpa perlu merangkul banyak partai.

Walau umumnya investor masih percaya Jokowi akan menjadi presiden pada bulan Oktober nanti, jalannya jelas tidak mudah dengan fragmentasi partai di arena politik Indonesia.

Pada awal April, saya bertemu dengan lebih dari 20 lembaga investor (saham dan SUN) di Singapura untuk membahas pemilu di Indonesia. Umumnya sentimen investor mengenai Indonesia telah membaik. Pada 2013 investor cenderung pesimistis, karena kurs rupiah melemah dari 9.700 per US dolar ke 12.200 dan IHSG dari 4.317 ke 4.274.

Pada akhir 2013, investor SUN bahkan telah memperkecil porsi investasi (underweight) di Indonesia dan memperbesar porsi (overweight) di Rusia dan Turki, yang dianggap memiliki prospek lebih baik. Namun sejak awal 2014 pasar modal Rusia dan Turki justru terpuruk, sementara rupiah dan IHSG sempat menguat ke 11.250 per US dolar dan 4.922.

Penguatan IHSG sebesar 15% (sampai tanggal 8 April) adalah yang kedua terpesat (setelah Vietnam) di Asia. Akibatnya, banyak investor yang mencoba memperkecil kerugian mereka dengan membeli saham dan SUN Indonesia, apalagi indiKator makro Indonesia mulai positif.

Di sisi ekonomi, defisit neraca transaksi berjalan dan perdagangan terus menciut, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan stabil di 5,5%-5,8% di tahun 2014, di atas pertumbuhan ekonomi dunia yang berkisar 3,5%.

Di sisi politik, di Asia ada dua negara besar yang menggelar pemilu, India dan Indonesia, di mana investor menilai pergantian pemerintah di India lebih rumit dan rawan konflik (dengan banyaknya partai daerah di parlemen nasional) dibanding di Indonesia, di mana Jokowi dan PDIP awalnya diperkirakan bisa menang dengan mudah.

Sementara di Thailand proses pemilu terus terganggu konflik antara pendukung Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dan pendukung kaum elit Bangkok. Intinya pada awal 2014 mudah bagi investor untuk optimistis atas Indonesia. Bagi mereka hanya ada tiga risiko yang bisa mengubah optimisme ini.

Pertama, Jokowi diasasinasi. Kedua, PDIP menarik kembali dukungannya terhadap Jokowi sebagai capres. Ketiga, peraihan kursi di DPR oleh PDIP jauh di bawah target sehingga terjadi fragmentasi komposisi DPR yang bisa menyulitkan pembentukan pemerintah koalisi dan implementasi kebijakan nantinya. Risiko ketiga telah menjadi kenyataan pasca-pileg dan akibatnya pasar finansial Indonesia terpuruk.

Sehari setelah pileg, saya melakukan conference call dengan investor di London dan Singapura. Ada empat isu yang mereka tanyakan dan inginkan. Pertama, mengingat kursi PDIP di DPR nanti diperkirakan kurang dari 25%, PDIP diharapkan bisa berkoalisi dengan partai besar lainnya (seperti Golkar dan Gerindra) untuk memastikan koalisi pemerintah yang kuat.

Bagi investor, koalisi 3-4 partai besar (yang menguasai lebih dari 51% kursi DPR) lebih efektif dibandingkan koalisi 5-6 partai seperti pemerintah sekarang.

Kedua, mengingat Jokowi belum cukup dikenal di forum internasional, diharapkan cawapresnya adalah figur yang sudah memiliki jejak rekam nasional dan bisa melobi DPR secara lintas-partai. Investor menanyakan pula apakah cawapresnya ditentukan oleh Jokowi atau Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri. Khususnya siapa yang memiliki “veto power”.

Ketiga, jika Jokowi terpilih presiden, seperti apa tim ekonominya. Para investor mendengar kalau Jokowi mempertimbangkan pandangan tokoh seperti mantan Wapres Jusuf Kalla, mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur BI Agus Martowardojo dan berharap tim ekonomi Jokowi lebih teknokratis dibanding politis.

Mereka juga ingat pada DeseMber 2013, Gubernur Jakarta Jokowi berniat melarang BBM bersubsidi di Jakarta, sehingga mereka berasumsi sebagai presiden Jokowi siap menaikkan harga BBM demi menjaga defisit APBN.

Keempat, investor mencoba menebak siapa yang memiliki kans terbesar untuk menjadi presiden jika bukan Jokowi.

Berdasarkan survei, pemimpin partai Gerindra Jenderal Prabowo memiliki kans terkuat. Namun Prabowo tidak memiliki pengalaman sebagai pejabat pemerintah sipil. Akibatnya investor dan analis hanya bisa menebak-nebak.

POLITICAL ECONOMY

Walau secara umum indiKator ekonomi Indonesia mulai membaik, masih ada isu yang mem prihatinkan. Pemerintah menyatakan subsidi BBM rawan melampaui target (karena kurs US dolar-rupiah jauh di atas asumsi APBN 2014 yakni 10.500) sementara penerimaan pajak diperkirakan di bawah target karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dan anjloknya harga komoditas sejak 2012.

Tanpa adanya kenaikan harga BBM (setelah kenaikan 45% pada bulan Juni 2013), defisit APBN akan melampaui batasan undangundang yakni 3% dari PDB 2014. (PN/Bisnis.com)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.