Home Nasional Siapa Dikte SDA, Hingga Merapat ke Gerindra?

Siapa Dikte SDA, Hingga Merapat ke Gerindra?

0

mas bowo_sda

POROSNEWS.COM – Pemerhati pemilu Sinergi Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahuddin menilai dukungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang diberikan kepada capres Partai Gerindra Prabowo Subianto dianggap sebagai dukungan yang tergesa-gesa, reaksioner dan penuh tanda tannya.

“Disaat partai-partai politik berbasis massa Islam dan para tokoh umat Islam tengah berupaya membangun komunikasi untuk menyatukan kekuatan politik Islam, SDA justru memilih desersi dan buru-buru menyatakan dukungan PPP untuk pencapresan Prabowo,” kata Said melalui keterangan pers yang diterima PorosNews.Com, Jakarta, Sabtu (19/4).

Lebih lanjut Said menambahkan sikap kelompok SDA itu bisa dikatakan bertolak belakang dengan “Khittah” PPP sendiri. Hakikat perjuangan, cita-cita politik, dan jati diri partai itu seolah lenyap. Tagline PPP sebagai “rumah besar umat Islam” pun seolah menjadi slogan tanpa arti. Karena seharusnya kan PPP-lah yang menjadi motor penggerak untuk membangun blok politik Islam.

“Sebetulnya bukannya tidak boleh PPP atau parpol Islam yang lain mendukung capres dari kelompok nasionalis, seperti Prabowo atau Jokowi, misalnya. Itu sah-sah saja. Tetapi kan mestinya PPP dan parpol Islam lainnya   terlebih dahulu mengoptimalkan gagasan untuk membentuk blok politik Islam sebagai bentuk penghormatan dan respons atas aspirasi kelompok pemilih Islam,” jelas penggiat demokrasi yang juga tergabung dalam Forum Pasca Sarjana Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (Forpas HTN UI).

Masih kata Said, jika  ditinjau dari sisi raupan suara dan ketersediaan tokoh yang bisa dimajukan sebagai capres-cawapres, parpol-parpol berbasis massa Islam ini punya modal besar untuk menandingi capres dari parpol-parpol nasionalis.

Kalau gagasan itu kemudian tidak bisa direalisasikan karena diantara parpol Islam dan para tokoh Islam ternyata tidak mencapai kata sepakat, maka pilihan untuk bekoalisi dengan parpol nasionalis menjadi reasonable.

“Itu baru bisa bisa disebut sebagai realitas politik. Jadi kuncinya harus ada semangat dulu dari pimpinan parpol-parpol Islam untuk membangun kebersamaan. Kalau yang dikedepankan adalah sikap pesimis dan saling curiga, apakah masih pantas mereka disebut sebagai pemimpin umat Islam? Pemimpin itu seharusnya mengedepankan optimisme dan rasa saling percaya demi umat yang dipimpinnya,” tutupnya. | Marcopolo.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.