Home Nasional Kata IPW, Polisi Tidak ‘Becus’ Amankan Pemilu

Kata IPW, Polisi Tidak ‘Becus’ Amankan Pemilu

0

neta s panePOROSNEWS.COM  – Bukan hanya persoalan keterlambatan distribusi logistik dan penggelembungan perolehan suara semata. Pemilu legislatif (pileg) juga menyisakan persoalan serius, satu di antaranya adalah persoalan keamanan yang dianggap kurang kondusif.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai maraknya aksi pembakaran surat suara yang terjadi secara beruntut dalam satu bulan menunjukkan kinerja dan performa aparat Kepolisian tidak becus bekerja untuk menjaga dan mengamankan pelaksanaan pileg.

“Polri bisa dikatakan gagal menjaga keamanan pasca pencoblosan. Dalam satu bulan saja ada 7 kasus pembakaran surat suara,” kata Neta dalam keterangan pers yang diterima PorosNews.com, Jakarta, Minggu malam (20/4).

Lebih lanjut Neta menjelaskan aksi brutal pembakaran surat suara terjadi di Sulawesi Tengah sebanyak  dua peristiwa, dan satu peristiwa di Jambi, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB)  Bengkulu, serta Nusa Tenggara Timur (NTT).

Enam kasus pembakaran surat suara terjadi setelah pencoblosan dan satu peristiwa sebelum pencoblosan. Aksi pembakaran itu terjadi di dua di kantor desa, tiga di kantor kecamatan, dan satu peristiwa terjadi saat massa mengamuk di kantor
KPUD.

“Tragisnya, aksi pembakaran itu ada yang dilakukan secara terang-terangan, misalnya di Jambi dan di Bima. Surat suara diambil dari kantor desa dan dibakar di halaman kantor desa. Polisi yang berjaga tidak berdaya menghadapi aksi massa. Selain itu ada pula kantor kecamatan yang dilempar bom molotov hingga seluruh surat suara terbakar,” sambung Neta.

Masih kata Neta aksi teror yang terus berlanjut ini tentu sangat meresahkan masyarakat. Di sisi lain polisi tidak berdaya menghentikan aksi teror ini. Dengan alasan jumlah personil yang terbatas, polisi seolah mendapat pembenaran untuk membiarkan massa membakar surat suara.

Padahal tidak ada alasan bagi Korps Bhayangkara tersebut untuk tidak maksimal bekerja.  Seharusnya polisi meningkatkan kinerja intelijen dan babinkamtibmasnya di sepanjang proses Pemilu 2014, sehingga bisa dengan maksimal melakukan deteksi dan antisipasi dini.

Sehingga polisi tidak kelabakan saat massa muncul dan tidak membiarkan saat massa membakar surat suara.

“Dengan adanya rentetan aski pembakaran surat suara di berbagai daerah ini, Polri bisa dikatakan gagal dalam menjaga keamanan pasca pencoblosan Pemilu 2014. Jika kinerjanya seperti ini, dikhawatirkan pasca penghitungan suara Pemilu 2014, Polri tidak mampu mengendalikan situasi maupun eskalasi politik yang kian tinggi,” tutup Neta. (PN/MACR/GUS)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.