Home EKONOMI Geliat Saham BBCA Tersandung Carut Marut Pajak Era Soeharto

Geliat Saham BBCA Tersandung Carut Marut Pajak Era Soeharto

0

bbcaPOROSNEWS.COM  – Saat PT Bank Central Asia Tbk (BCA) diterpa masalah penyelewengan prosedur pembayaran pajak,  Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menegaskan perusahaan pimpinannya telah membayar sesuai aturan wajib pajak (WP). Jahja mengatakan tidak ada yang keliru dalam pembayaran yang bermula pada 1999 tersebut.

“Dapat disampaikan bahwa BCA tidak melanggar undang-undang maupun peraturan perpajakan yang berlaku,” tegasnya, Selasa (22/4).

Dia memberi klarifikasi berupa alur pembayaran pajak BCA untuk tahun fiskal 1998. Saat itu, BCA mengalami kerugian fiskal sebesar Rp29,2 triliun selama krisis ekonomi politik era Soeharto.

Karena bersandar pada UU, kerugian perbankan dikompensasikan dengan penghasilan (tax loss carry forward) mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut selama lima tahun berikutnya. Sehingga, pihak BCA mulai membukukan laba fiskal pada 1999 sebesar Rp. 174 miliar.

Pada 2002, Ditjen Pajak memberikan koreksi laba fiskal periode 1999 menjadi Rp. 6,78 triliun. Koreksi ini meliputi transaksi pengalihan aset termasuk jaminan sebesar Rp. 5,77 triliun melalui proses jual beli dengan BPPN yang tertuang dalam perjanjian jual beli dan penyerahan piutang.

“Tapi ini dilakukan sejalan dengan SKB, instruksi Menteri Keuangan dan Gubernur BI pada 26 Maret 1999,” lanjut Jahja.

Dugaan Ditjen Pajak bahwa aksi jual beli sebagai penghapusan piutang macet berbeda dengan sudut pandang BCA yang menilainya sebagai jual beli piutang saja. Akibatnya, BCA mengajukan keberatan kepada Ditjen Pajak atas koreksi pajak pada 17 Juni 2003.

Ketika masa kompensasi kerugian pajak berakhir tahun 1998, ada jumlah kompensasi yang belum digunakan sebesar Rp. 7,81 triliun.

Selanjutnya, Ditjen Pajak menolak keberatan BCA yang bernomor SK No. KEP-870/PJ.44/2004 pada 18 Juni 2004.

“Makanya masih terdapat sisa tax loss carry forward yang dapat dikompensasikan sebesar Rp2,04 triliun, tapi sisa tersebut tidak bisa dipakai lagi karena hangus setelah 2003,” keluhnya.

Persoalan pajak ini langsung menggerus posisi saham BCA di IHSG. Harga saham berinisial BBCA turun sebesar 1,34% menjadi Rp 11.025. Mantan Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo diduga menolong BCA untuk menyetujui nota keberatan yang dijelaskan di atas pada medio 2002 – 2004. (PN/RM)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.