Home Nasional Daerah Caleg Demokrat Gagal Jadi Legislator, Meski Sudah Gelar Ritual Gaib

Caleg Demokrat Gagal Jadi Legislator, Meski Sudah Gelar Ritual Gaib

0
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

POROSNEWS.COM – Berbagai cara dilakukan oleh seorang calon legislatif (caleg) untuk dapat duduk dan terpilih sebagai seorang legislator, mulai dari melakukan praktik ‘money politic’ sebelum hari pencoblosan, hingga menggunakan ritual gaib untuk dapat terpilih sebagai wakil rakyat.

Adalah Miftakhul Jannah seorang caleg perempuan dari Partai Demokrat asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang melakukan ‘tirakat’ (ritual khusus sesuai tradisi Jawa) dengan ‘kungkum’ (bertapa disebuah sungai). Miftakhul mengaku rangkaian ritual yang dilakukan dalam rangka untuk menguatkan batin dan mental dalam menghadapi ajang pileg.

Namun demikian, meskipun sudah menggelar ritual gaib, dirinya dikabarkan tidak lolos dan duduk sebagai legislator di DPRD Kabupaten Ngawi. Walhasil, Miftakhul kembali ke habitat awalnya dengan menekuni profesi sebagai seorang guru.

“Apa pun hasilnya, kami tetap menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara dari KPU Kabupaten Ngawi. Yang jelas sekarang saya tetap fokus mengajar,” terang Miftahul Jannah, pekan lalu.

Setelah dilakukan pengecekan, Miftakhul hanya sanggup mendulang suara tak lebih dari 500 suara saja dan itupun di sekitar tempat pemungutan suara (TPS) yang letaknya amat dekat dengan kampungnya. Meski terancam gagal duduk di DPRD Ngawi, guru dua mata pelajaran Matematika dan Bahasa Jawa di Madrasah Tsanawiyah (Mts) tersebut tetap ikhlas dan legowo menerima takdir ilahi.

“Saya tetap legowoWong semua sudah dilaksanakan dan dijalankan. Pokoknya saya tetap akan mengabdi untuk masyarakat dengan tetap mengajar di sekolah ini,” imbuhnya.

Miftahul Jannah mulai dikenal luas setelah diberitakan menggelar ritual dan doa di Sungai Tempuk, Alas Ketonggo (Srigati), Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Rabu (12/3/2014).

Dalam mitologi Jawa sendiri, Alas Ketonggo merupakan sebuah nama atau tempat yang diramalkan oleh Sri Prabu Jayabaya (1135-1157) akan munculnya ‘Satria Piningit’ atau tokoh penyelamat yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan kuat.

Namun demikian, banyak orang menterjemahkan hal tersebut secara skripturalis (sesuai teks), padahal ucapan dan perkataan Prabu Jayabaya penuh dengan simbolis dan kata-kata filasafat yang harus diurai dan dicerna. KCP/Sukmo Lelono.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.