Home Nasional Hukum Pengadilan Opini Berjibaku di Kasus Anas

Pengadilan Opini Berjibaku di Kasus Anas

0

anas2POROSNEWS.COM  – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor),  telah jelas sepakat menolak eksepsi atau Nota Keberatan yang disampaikan oleh Anas Urbaningrum dan Tim Penasehat Hukum-nya atas dakwan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Putusan sela dari Majelis Hakim ini menarik, karena diwarnai dengan perbedaan pendapat atau Dissenting Opinion (DO).

Peristiwa tersebut menjadi menarik karena ada perbedaan pendapat antara kelima Majelis Hakim atas penabalan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang didalam dakwaan JPU untuk Anas Urbaningrum yang sudah terlebih dahulu divonis sebagai koruptor oleh pengadilan opini.

Yang menarik berikutnya adalah meski Anas Urbaningrum telah divonis terlebih dahulu oleh pengadilan opini yang dirancang secara baik, Majelis Hakim tetap merasa “ragu” atas dakwaan yang dibuat oleh JPU Komisi Pemberantasan Korupsi.

Skornya 3-2, tiga yang menerima dan dua tidak menerima. Ibarat pertandingan Piala Dunia, peristiwa ini adalah pertandingan antara kesebelasan Belanda vs Australia yang berakhir dengan skor 3-2.

Kenapa bisa terjadi DO antara kelima Majelis Hakim. Ini berkaitan dengan ketakutan Penasehat Hukum Anas Urbaningrum sebelum mengajukan Nota Keberatan, ketakutan akan penolakan telak dari Majelis Hakim dan berbuntut pada “dendam” JPU yang akan memperberat hukumannya.

Namun justru Anas Urbaningrum merasa perlu mengajukan Nota Keberatan, karena dia menilai dakwaan JPU dipenuhi kalimat-kalimat yang imajiner, spekulatif dan sangat berbau politis termasuk atas penyitaan-penyitaan aset-aset milik mertua dan kakak iparnya namun “didugakan” sebagai miliknya yang disamarkan. Mungkin bagi Anas Urbaningrum, tentu itu bukan sebuah dakwaan, tetapi pemaksaan hukum.

Penyampaian Nota Keberatan adalah simbol, simbol atas keyakinan yang kuat dari Anas Urbaningrum atas kesalahan orang lain yang dialamatkan kedirinya. Simbol atas perlawanan Anas Urbaningrum untuk mempertahankan kehormatan dirinya yang telah dinodai dan dibunuh oleh tuduhan-tuduhan imajiner JPU KPK yang bersumber dari karangan bebas M. Nazarudin.

Karena dengan keyakinan itu pulalah Anas Urbaningrum yang saya yakini merasa harus melawan dengan keras.

Kalimat-kalimat di Nota Keberatan yang ditulis dengan tangan dan dibacakan oleh Anas Urbaningrum adalah puncak dari kekecewaannya, puncak dari rasa emosinya yang selama ini tidak pernah kita lihat sebelumnya. Namun tetap disampaikannya dengan sopan, santun dan senyuman-senyuman tanpa kecutan ketika menghadapi JPU KPK dan Majelis Hakim.

Didalam Nota Keberatannya lalu muncul istilah dan terminologi Jawa “Otak-atik Gathuk”, “sadumuk bathuk samjari bumi” dan “ditohi pati”, istilah dan terminology Jawa yang tidak bisa dianggap lelucon seperti filsafat Jawa yang disampaikan oleh JPU KPK diakhir pendapatnya atas Nota Keberatan Anas Urbaningrum yang berbunyi “sejatine urip iku ora ana apa-apa, kang ana iku mung dudu” yang mencitrakan JPU KPK hanya “bermain-main”.

Istilah “Otak-atik gathuk” di Nota Keberatan Anas Urbaningrum muncul karena isi surat dakwaan yang dinilainya sangat spekulatif berdasarkan metode mengait-ngaitkan dan mengira-ngira. Sedangkan terminologi Jawa “sadumuk bathuk samjari bumi” yang bermakna meski sejengkal, karena menyangkut kehormatan, tanah harus dipertahankan dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, Bahkan dalam tradisi Jawa disebut “ditohi pati”, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Terminologi Jawa itu muncul atas tuduhan TPPU yang berujung pada penyitaan aset-aset milik mertua dan kakak iparnya yang dituduhkan sebagai milik Anas Urbaningrum yang disamarkan.

Pertanyaannya, siapa yang tidak kenal dengan mertua Anas Urbaningrum, Kyai H. Attabik Ali, keturunan pendiri Pesantren Krapyak yang juga keturunan dari pendiri NU?

Pesantren Krapyak bahkan sudah ada jauh-jauh hari sebelum Republik Indonesia merdeka dengan alumni-alumni yang hingga kini “terserak” hingga seantero jagat dengan berbagai posisi kehidupan. Bahkan, siapa Presiden atau pejabat yang tidak pernah berkunjung dan menyumbang untuk pesantren yang masih menjalankan manajemen “kuno” dan berstatus hukum yayasan tersebut.

Jadi, tak heran bila aset-asetnya banyak dan terus bertambah untuk upaya pengembangan. Bahkan kalimat lebih ekstrimnya, Pesantren Krapyak atau Attabik Ali sudah “bergelimang harta” jauh sebelum anaknya dinikahi oleh Anas Urbaningrum. Jadi, Attabik Ali dan kakak iparnya Anas Urbaningrum bukanlah “orang kaya” baru di republik ini. Tidak menonjol, karena memang kehidupannya sungguh-sungguh diabdikan untuk penyebaran ilmu Agama dan pendidikan secara umum.

Majelis hakim yang dipimpin oleh Hasnawi memang menyatakan menolak eksepsi atau Nota Keberatan Anas Urbaningrum dan kuasa hukumnya. Hanya saja putusan itu tidak bulat, dua hakim anggota Slamet Subagyo dan Joko Subagyo menyatakan pendapatnya yang berbeda alias dissenting opinion menyangkut dakwaan dengan menggunakan pasal TPPU yang dinilai tidak tepat. Hakim juga menilai Jaksa KPK secara filosofi belum mempunyai kewenangan untuk menuntut dan menjerat Anas Urbaningrum terkait TPPU.

Peristiwa hari ini, Kamis, 19 Juni 2014 di Pengadilan Tipikor dengan terdakwa Anas Urbaningrum menjadi sebuah pelajaran buat kita. Peristiwa hari ini juga sekaligus menunjukkan sebuah harapan kepada kita untuk sebuah pengadilan yang adil, pengadilan yang memberikan keadilan dan bukan pengadilan yang hanya bertujuan untuk menghukum. Hakekatnya adalah pengadilan itu adalah tempat untuk mencarikan keadilan.

Kita harus hormati apa pun keputusan Majelis Hakim, citra keragu-raguan buah dari perbedaan pendapat tersebut telah menunjukkan bahwa Majelis Hakim tidak terpengaruh dengan pengadilan publik yang telah terlebih dahulu memvonis Anas Urbaningrum sebagai “koruptor” oleh komisioner dan penegak hukum di KPK, politisi, media sebagai “pembiakan” opini dan juga publik yang terpengaruh oleh pembangunan opini tersebut. (PRAS)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.