Home Kolom Mbah Maimun, Ulama yang Konsisten Dukung Prabowo

Mbah Maimun, Ulama yang Konsisten Dukung Prabowo

0

Oleh Tjahja Gunawan (Penulis Wartawan Senior)

Saya baru ditelepon pimpinan, gak boleh mainin Mbah Maimun lagi. Tampaknya istana merasa dipermalukan, sampai menelpon pemilik,” demikian antara lain isi WA 
dari seorang eksektif produser sebuah Stasiun TV Swasta. 

Rupanya efek do’a KH Maimun Zubair atau biasa dipanggil Mbah Maimun telah menggetarkan rezim penguasa. Do’a langitan yang dipanjatkan Mbah Maimun telah menggoyahkan dinding kekuasaan yang angkuh. Do’a tersebut sekaligus menyadarkan masyarakat akan kekuasaan Allah SWT.

Berbagai bantahan dan klarifikasi yang disampaikan para  pendukung  penguasa, tidak mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap makna dan hakekat do’a yang dipanjatkan Mbah Maimun.

Menyadari kenyataan tersebut dan agar isu do’a Mbah Maimun ini tidak terus menerus menjadi polemik di masyarakat, media mainstream terutama televisi diminta untuk tidak lagi menyiarkan tentang kontroversi do’a Mbah Maimun.

Kepanikan Petahana

Kepanikan telah melanda kubu petahana. Ibaratnya mereka yang berbuat, mereka pula yang repot sendiri. Maksud hati mau meraih simpati umat Islam dengan memanfaatkan ulama Jawa Tengah, yang didapat justru permohonan do’a Mbah Maimun untuk Calon Presiden 02, Prabowo Subianto.

Kita ketahui bahwa Mbah Maiumun yang memiliki  nama lengkap KH Maimun Zubair (90) adalah tokoh  ulama yang disegani dan dihormati oleh Umat Islam terutama di Jateng. Dia juga adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jateng. 

Setiap perkataan Mbah Maimun akan menjadi sumber rujukan masyarakat dan ditaati para santrinya termasuk do’a yang dipanjatkan dalam acara “Sarang Berzikir untuk Indonesia Maju”,  Jumat, 1 Februari 2019 lalu. 

Di akhir acara tersebut, Mbah Maimun yang duduk di sebelah Presiden Joko Widodo membacakan do’a.  Saat membacakan do’a itulah, Mbah Maiumun  menyebut nama calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto.

“Ya Allah, hadza ar rois, hadza rois, Pak Prabowo ij’al ya ilahana,” kata Mbah Maimun sebagaimana bisa dilihat dalam rekaman video yang telah beredar luas di berbagai jejaring media sosial. 

Mbah Maimun membacakan do’a sambil melihat secarik kertas kuning yang dia keluarkan dari sakunya. Do’a ini dibacakan Mbah Maimun dalam bahasa Arab.

Arti do’a

Potongan do’a tersebut kurang lebih memiliki arti ‘ya Allah, inilah pemimpin, inilah pemimpin Prabowo, jadikan, ya Tuhan kami’. Petikan do’a yang terselip nama Prabowo itu terekam di menit ke 3 lewat 40 detik dari video berdurasi 6 menit 37 detik.

Usai berdo’a,  Ketua Umum PPP, Muhammad Romahurmuziy alias Romi, tiba-tiba dengan tergopoh-gopoh maju kedepan menghampiri Mbah Maimun. 

Tidak lama kemudian Mbah Maimun kembali berdo’a seperti meralat ucapan sebelumnya. “Jadi saya dengan ini, untuk menjadi, siapa yang ada di samping saya ya Pak Jokowi,” katanya.

Aksi Romi inilah yang sebenarnya memicu persoalan sekaligus mengundang polemik di masyarakat. Apalagi Romi ternyata tidak hanya meminta Mbah Maimun meralat do’anya, tetapi dia sengaja datang ke kamar pribadi Mbah Maimun untuk membuat vlog  dukungan Pilpres kepada paslon 01Jokowi-Ma’ruf.

Romi melampaui batas

Aksi Romi ini benar-benar sudah melampaui batas bahkan sebagian menilai dia ini su’ul adab. 
 
Bagaimanapun juga Mbah Maimun merupakan sosok kiai sepuh yang mestinya dihargai dan dihormati. Dalam kaitan ini, Romi jelas tidak tepat masuk ke ruang privasi dan meminta Mbah Maimun untuk membuat pernyataan kepada para santri untuk ikut memilih Jokowi. Aksi Romi masuk ke kamar pribadi ulama sepuh tersebut, dipicu oleh ucapan Mbah Maimun yang telah mendo’akan Prabowo Subianto. 

Sebenarnya Kyai Maiumun Zubair tidak salah dalam berdo’a.  Yang salah adalah yang memaksakan do’anya kepada Mbah Maimun. Do’a harus tulus diungkapkan dari hati terdalam. Masyarakat meyakini Mbah Maiumun telah memohon kepada Allah SWT, sesuai dengan suara hatinya. 

Dalam kesehariannya, lisan ulama itu senantiasa terjaga. Setiap saat, ulama lebih banyak mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Lisan seorang ulama garis lurus akan senantiasa dibimbing dan dijaga oleh Allah azawajala. 

Setelah ditelusuri lebih jauh, sosok Mbah Maimun ternyata tidak hanya berkutat dengan urusan ibadah ubudiyah. Dia juga pernah berkiprah di dunia politik praktis, sebagai pengamalan dari tugas dan kewajiban umat Islam untuk bermuamalah dan bersiasah (berpolitik secara Islami). 

Mbah Maimun yang lahir  bertepatan dengan Ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ini,  pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang, Jateng, selama tujuh tahun. Setelah berakhirnya masa tugas sebagai wakil rakyat di DPRD, Mbah Maimun mulai berkonsentrasi mengurus Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. 
Tapi rupanya tenaga dan pikiran Mbah Maimun  masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR-RI utusan Jateng selama tiga periode di era Orde Baru.

Mbah Maimun termasuk salah satu ulama yang konsisten mendukung Prabowo Subianto sejak Pilpres 2014. Selain sebagai ulama, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majlis Syariah PPP, waktu itu Mbah Maimun mendukung koalisi Merah Putih, koalisi partai yang mengusung pasangan calon Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dan saat itu, PPP mendukung paslon Prabowo-Hatta. 

Pada Pilpres 2014, Prabowo-Hatta memperoleh suara tinggi di pondok pesantren Mbah Maimun. Waktu itu,  Prabowo-Hatta mendapat 3.223 suara sementara pasangan Jokowi -Jusuf Kalla memperoleh 1.637 suara. Apakah dalam Pilpres 2019 ini, Prabowo yang kini berpasangan dengan Sandiaga Uno, akan meraih suara terbanyak di Pesantren Mbah Maiumun? Kita lihat saja nanti.

Yang jelas do’a Mbah Maimun sangat dahsyat karena telah membuka pintu langit, membuka pintu hati rakyat, demi Indonesia yang lebih baik. Wallahu’alam.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.