Home Islam Ini 5 yang Bedakan Prabowo Pilpres 2019, Dibanding 2014

Ini 5 yang Bedakan Prabowo Pilpres 2019, Dibanding 2014

0
Kantor Pusat KPU Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat/porosnews.com

Tulisan ini hanya ingin mengingatkan, bahwa Pilpres 2014 dan 2019 itu beda. Bedanya banyak. Ya banyak karena lebih dari 5 poin yang penting beda bukan karena ingin membeda-bedakan. Prabowo itu beda kini loh. Yang tidak di punya Prabowo pada 2014 kini sangat beda di Pilpres 2019.

Mau tahu atau mau tahu banget…Baiklah mari sebut 5 yang bedakan Prabowo sebagai Capres 2019, ini hanya padangan:

  1. Emak-Emak. Adanya emak-emak yang militan dukung Paslon nomor 02. Yang ini tak usah dijelaskanlah sudah kenyataan banyak emak-emak yang militan dukung Parbowo-Sandi. (silakan saja sebutkan dan cek di jejak digital begitu berjibun ampyun)
  2. Milinial. Milineal yang dalam hal ini ceruk suaranya dibawa Sandiaga Uno. (yang ini juga sudahlah tak usah dihitung jumlahnya, bahkan emak-emak sampai nenek-nenek makin klepek-klepek kalau Sandi turun di lapangan — sekadar catatan hal ini terjadi maaf ya 2014 milik Jokowi kalau turun ke pasar atau kemana-mana pasti seperti Sandi saat ini– cuma Sandi lebih dahsyat lagi rupanya. Ini fenomena sekaligus realitas yang ada.
  3. Pilpres tahun 2014 kayaknya tak separah sekarang, ulama diperebutkan sebagai taruhan dukungan. Doa di ulang-ulang. Waktu tahun 2014 JK yang pasangan Jokowi dikenal tokoh NU juga dan JK punya suara besar di Indonesia Timur. Tahun 2019 ini dukungan ulama terpecah atau bahkan berebut doa tadi. Ulama, Kyai, Habaib, dll, masa Muslim suaranya ada di dua pasangan Pilpres 2019.
  4.  212. Masa 212 ya. Yang ini jangan dianggap enteng loh. Ini bahkan menjadi point penting. Penting karena Prabowo ada dukungan masif dari 212, selain masif massa ini militan dan kuat. Sebenarnya sih Jokowi juga Alumni 212 loh, sebab dia ikut hadir waktu itu bahkan Jumatan di acara 212 dengan Khotib Habib Rizieq Shihab (HRS), tapi massa 212 nampaknya lebih dikuatkan lagi Ijtima ulama dimana absolut mendukung Prabowo. Meski ada juga kita lihat yang katanya dulu terlibat 212 ikut ke Petahana.
  5. Sosmed. Sosial Media Prabowo katanya lebih kuat kini sedang di 2014 habis oleh Jasmev untuk urusan media soscial Jasmec top dah… Ya bisa jadi maka kekalahan Prabowo itu bukan hanya kalah di media mainstream tapi di sosmed saat 2014 terhempas, lambat merespon isu, bahkan buser 2014 itu ratusan gentayangan di dunia maya. Tapi kini beda. Sosmed Prabowo katanya kuat, hingga akhirnya patahana di hari pers sampai bilang tak bisa percaya Medsos, kayaknya ini kode sih. Joko Widodo justru dinilai menunjukkan kekhawatiran dengan pernyataannya tidak percaya media sosial. “Pak Jokowi sepertinya sadar kalau memang netizen menunjukkan sentimen negatif kepada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf sedangkan Pak Prabowo dan Bang Sandi sangat positif di media sosial,” kritik koordinator Prabowo-Sandi Digital Team (PRIDE), Anthony Leong di Jakarta.  Anthony yang juga anggota Direktorat Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi siap membuktikan data kekalahan Jokowi-Maruf di pembicaraan media sosial melalui metode big data. “Ini era big data, semua data digital bisa dicapture. Kami akan maksimalkan algoritma di media sosial untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Prabowo-Sandi. Jokowi menang di sosmed 2014 jangan karena sekarang kalah jadinya tidak percaya,” lanjutnya. Kalau dilihat kejadian ini rasanya mirip benar dengan video yang beredar dari penyataan Adian Napitapulu bahwa serang udara 01 kalah dan darat kalah (video banyak beredar). Dan memang ahli sosmed 02 saat ini kuat tanpa di bayar. Dulu juga Jasmev itu keren harus diakui Jasmev yang disebut jaringan antar kelompok sukarelawan tanpa bayaran yang pada saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 menjadi pendukung Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Tapi apakah Jasmev kini akan eksis lagi atau karena sudah nyaman jadi komisaris? Dari 5 ini bisa dibuat analisa artinya pasangan 02 makin matang atau ada banyak fenomema terjadi? Dan apakah Petahana ada kelemahan kok setiap acara bangku kosong dan apa yang selalu dituduh oposisi acaranya penuh terus. Padahal juga petahana masih presiden loh jadi akses presiden itu lebih kuat bukan? Atau malah biasanya petahana itu suaranya kuat elektabilitasnya diatas 45% meski diam. Dan umumnya lawannya harusnya kerja berat jika naik ingin elektabilitas diatas 35%. Akhirnya kita nanti kita lihat saja apa yang terjadi pada 17 April nanti, apakah ada kejutan atau biasa saja? Kita tunggu saja. Tabik!!! Aendra Medita, untuk Porosnews.com dimuat 12 Februari 2019.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.