Home BUDAYA Dialog Politik Himpsi Jaya: Politik, Pilpres & Polarisasi Publik Di Era Post...

Dialog Politik Himpsi Jaya: Politik, Pilpres & Polarisasi Publik Di Era Post Truth

0
Koperasi Harjaya Jiwangga Utama (HJU) yang berafiliasi dengan Himpsi Jaya menggelar Dialog Politik. Ini menarik acara yang di gelar pada Kamis Kamis, 28 Februari 2019 Di Kantor Himpsi Jaya Komp. Golden Plaza Blok B no. 40 Jl. RS Fatmawati Jakarta Selatan ini menampilkan sejumlah pembicara antara Prof Hana Pangabean (Atmajaya), Pamungkas T (Perhumas dan Pratisi Media), Ade Armando (UI), Ledia Hanifa (Anggta DPR RI PKS) dan Abdul Malik Gismar (Paramadina)./AME

POROSNEWS – Koperasi Harjaya Jiwangga Utama (HJU) yang berafiliasi dengan Himpsi Jaya menggelar Dialog Politik. Ini menarik acara yang di gelar pada Kamis Kamis, 28 Februari 2019
Di Kantor Himpsi Jaya Komp. Golden Plaza Blok B no. 40
Jl. RS Fatmawati Jakarta Selatan ini menampilkan sejumlah pembicara antara Prof Hana Pangabean (Atmajaya), Pamungkas T (Perhumas dan Pratisi Media), Ade Armando (UI), Ledia Hanifa (Anggta DPR RI PKS) dan Abdul Malik Gismar (Paramadina).

Dalam suasana Politik ini peran Psykologi menjadi berperan, sebagai ruang pemikiran besar. Kontestasi politik dalam rangka Pilpres dan Pileg 2019 di negeri ini telah menimbulkan polarisasi dalam masyarakat yang cukup mengkhawatirkan. Diwarnai komunikasi yang cenderung bising dan agresif, maupun kampanye yang tajam dan “divisive” (saling mencari perbedaan), dikhawatirkan antara pendukung kontestan politik akan terjadi tidak saja rasa permusuhan tapi konflik horizontal yang tajam dan berkepanjangan.

Diskusi bertajuk: “Politik, Pilpres dan Polarisasi Publik di Era Post Truth,” dengan tujuan untuk menilik fenomena tersebut dari perspektif ilmu psikologi dan kemasyarakatan serta berbagai disiplin ilmu sosial lainnya.

Problem besar kita dua, pendidikan dan literasi “Ini ada pendidikan rendah dan literasi rendah,” ujar Ledia Hanifa.

Saat ini media dalam Pilpres misalnya pesannya meski saat ini TV tapi media sosial, pola pendidikannya masih rendah. Saat ini pola pendidikannya belum tersampaikan pola pendidikan informasi dikelola tidak cepat biasannya besar.

Ditambahkan Ledia era Era Post Truth itu mengulang-ulang pesan benar atau tidak posisinya itu yang terjadi saat ini.

Sementara itu Pamungkas T menilai lierasi rendah menang terjadi. Tapi minat internet di tanah air ini sehari 8-11 jam data mengatakan 4-10 orang aktif di sosmed, literasi rendah dan internet tinggi

Di dunia berita hoax tulisan gambar dan sosmed bebas dan hoax karena setiap orang boardcaster, dan media ada tim secara berubah ini keniscayaan.

“Harus diakui juga bahwa pengunaan tumbuh dalam ruang komunikasi dimana saat 300 juta sim card sudah terpakai melebih jumlah penduduk” jelas anggota Perhumas ini

Pamungkas menilai dalam Pemilu saat ini campaign negatif banyak dan media berperan. Tapi di Amerika 72 persen penduduknya tak percaya dan 22 % indonesia, bebernya.

Nah psykologi menjadi penting karena ini ada dalam pesan positif akan membawa atau perubahan postif akan positif jika tidak sebaliknya.

Abdul Malik Gismar menyoroti terbelahnya dua kubu cebong dan kampret itu harusnya pada 17 April nanti akan terjawab siapa yang menang nanti harusnya menjadikan kampret manusia lagi dan cebong jadi manusia lagi.

“Sebab saat ini demonisasi luar biasa, trus diacak-acak dan jelas ini distrust jelas mengerogoti sosial capital siapapun yang menang yang peran Psykologi.menajadi cocial kultur hanya akan punya sanksi dan selesai mudah-mudahan,”ujarnya.

Ditempat yang sama Prof Hana Pangabean mengatakan Era Post Truth ini membuka bahwa tradisi hilang budaya tuan rumah, multi kultura adanya migran. “Negara besar budaya tuan rumah keberagam harus cair. 30 tahun tak boleh beragam soalnya keberagam beban. Padahal keberagaman itu formula kalau bisa dikelola, karena bangsa kita sosial culture komplek,” tegasnya. |AME

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.