Home Nasional Hukum Ini Zaman Pecah-Belah

Ini Zaman Pecah-Belah

0

Ini Zaman Pecah-Belah

Oleh: M. Nigara

(Wartawan Senior
Mantan Wasekjen PWI)

ASTAGFIRULLAH. Sekarang keluarga Sandiaga Uno yang ‘dipecah.’ Sebentar lagi bukan tidak mungkin ada keluarga-keluarga yang lain akan ikut dipecah. Sungguh, inikah yang disebut Jayabaya zaman Edan itu? Wallahu a’lam bishawab.

Seorang sahabat mengingatkan saya bahwa methodologi memecah-belah saat ini sedang berjalan di sini. “Coba lihat, umat Islam dipecah, partai-partai dibelah, ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah terbelah. Bahkan PSSI olahraga sepakbola saja ikut dibelah,” katanya begitu serius. “Yang paling miris, media juga dipecah-pecah,” katanya lagi.

Umat Islam beruntung ada kasus Ahok yang menistakan surat Al Maidah ayat 51. Meski masih tetap ada yang berbanjar di seberang, umat Islam yang bersatu untuk membela agama jauh lebih banyak. Aksi 411 dan 212 adalah bukti tak terbantahkan bahwa umat Islam yang berada di barisan menentang Ahok berlipat kali lebih banyak. Meski demikian, suasana berhadap-hadapan masih saja terlihat jelas.

Lihat juga Partai politik seperti Golkar, PPP, Hanura, tak lepas dari upaya itu. Saya tidak ingin menuduh, tapi di era pemerintahan sebelum ini tidak ada kisah-kisah itu. Atau jika pun ada, tidak pernah menjadi besar.

Perseteruan Golkar berlarut-larut hingga jadi tontonan yang kurang mengenakkan. Tak kalah seru dengan PPP, meski ada yang sudah memenangkan pertarungan di pengadilan, tapi tetap saja tidak bisa dieksekusi. Hanura pun begitu, kubu Wiranto dengan Usman Sapta, meski tak sekeras Golkar dan P3, tetap saja terbelah.

Lalu, NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di republik juga demikian. Beruntungnya kedua ormas keagamaan itu, meski ada perbedaan tapi masih terkendali. Beruntungnya lagi, dengan perpecahan itu maka garis pemilihan di pilpres jadi jelas dan tegas.

PSSI, organisasi keolahragaan yang sejatinya tidak dan bukan bagian dari politik praktis, tidak luput dari pecah-belah. Dalam empat tahun, PSSI diaduk-aduk seperti adonan kueh.

Ya, yang paling miris adalah pers. Sepanjang sejarah, baru di zaman inilah pers benar-benar berbeda. Di zaman inilah pers bisa dengan tenang mengabaikan fakta (menggelapkan sejarah, jika boleh meminjam istilah Dr. Effendy Gazali, pakar komunikasi dan Rocky Gerung, dosen yang sedang naik daun karena kekritisannya) di depan mata. Pers seolah-olah tidak melihat (kecuali tvOne dan belakangan ada yang ikutan) ada jutaan bahkan belasan juta manusia berkumpul di satu tempat untuk melakukan aksi damai, bersih, dan tertib. Sungguh memilukan.

*Etiskah?*
Kembali ke soal keluarga Uno. Jika kita bicara soal demokrasi tulen, berbeda pendapat adalah hal biasa. Jadi, jika ada keluarga Sandi yang berbeda pilihannya, apalagi kalau jelas beda partainya, ya sah saja.

Tapi, jika perbedaan itu lalu dieksploitir, apalagi patut dapat diduga digunakan untuk kepentingan tertentu, rasanya kurang etislah. Keluarga itu berbeda dengan organisasi. Organisasi saja tidak etis jika sengaja dibelah-belah hanya untuk kepentingan sesaat, apalagi keluarga yang jelas punya hubungan darah.

Ini tidak ada kaitannya tentang elektabilitas Sandi sebagai Cawapres. Insyaa Allah, pendukung anak muda yang satu ini tidak akan berkurang meski sebagian kecil keluarganya di daerah tidak mendukungnya. Soliditas pendukung Sandi setiap hari semakin bertambah. Malah menurut sumber tertentu, jika pilpres dilaksanakan hari ini, insyaa Allah Prabowo-Sandi menang karena pergerakan naiknya luar biasa. Ujungnya insyaa Allah bisa mencapai selisih 17 persen.

Orang yang punya akal sehat (istilah yang dipopulerkan Rocky Gerung) tentu paham harus memilih siapa. Jika ada dua pilihan, satu anak muda: sholeh, gagah, tampan, energik, cerdas (salah satunya paham ekonomi dengan baik dan benar serta mampu berkomunikasi dengan pihak asing secara baik dan benar), kaya, santun lagi. Dan satunya, saya tak ingin menuliskannya secara rinci, tapi yang jelas tidak muda lagi. Bahkan usianya sudah berkepala tujuh pula. Gerakan fisiknya, tentu sangat terbatas, cepat lelah, tentu beda dengan anak muda. Pola pikirnya pasti tidak seresponsif anak muda.

Jadi, jika kita menggunakan akal sehat, maka hmmmmm… pilihan anda pasti tidak berbeda dengan pilihan RG dan saya.

Kembali lagi ke inti persoalan. Keluarga Uno di kampung, berhak menentukan pilihan dan sudah menentukan pilihannya. Sandi Uno sendiri dengan tenang menanggapi hal itu. “Saya hormati keputusan saudara-saudara saya itu,” tukas Sandi sambil tersenyum seperti terlihat di tvOne. Ya, Sandi memang perlu tersenyum, toh 1500 ulama dan puluhan juta umatnya sudah jelas mendukungnya bersama Prabowo. Tentu termasuk Imam Besar, Habib Riziek Shihab.

Tidak ada yang salah. Tapi, jika ada yang mengatakan: “Harusnya keluarga Uno mendukung Sandi,” itulah yang berbahaya. Itulah ucapan yang patut dapat diduga sedang menggoreng menuju perpecahan keluarga. Padahal selama ini mereka justru memiliki senjata: persatuan dan kesatuan, toleransi, dan kebhinekaan. Mereka sering mengucapkan: “Aku Indonesia, Aku Pancasila!”. Tapi faktanya? Anda nilai sendiri deh.

Sekali lagi, Sandi tetap lebih muda, lebih tampan, lebih bugar, lebih gesit, dan lebih memiliki harapan….
Jangan marah ya, saya bukan keluarga Uno.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.