Home BUMN TRANSFER TEKNOLOGI ATAU DISRUPSI JONGOS?

TRANSFER TEKNOLOGI ATAU DISRUPSI JONGOS?

0
TRANSFER TEKNOLOGI ATAU DISRUPSI JONGOS? -ilustrasi

Imajinasi transfer teknologi dan transfer pengetahuan itu sama pandirnya dengan transfer saldo kartu tani. Sudah lebih dari empat dekade, misalnya, kita kerjasama dengan Jepang dalam bidang otomotif. Buruh murah sudah kita berikan, pasar paling gemuk di Asia Tenggara telah kita hadiahkan, dan apa yang bisa kita buat selama hampir setengah abad?! Ke mana hasilnya transfer itu?!

Tentu saja ini bukan soal bagaimana pemerintah Jepang, tapi soal bagaimana pandirnya pemerintah Indonesia mengelola politik perekonomian.

Hari ini banyak orang latah bicara disrupsi, Revolusi Industri 4.0, lanyah membahas unicorn, tapi kelatahan itu tak serta-merta membuat mereka berpikiran lebih maju, karena dalam rantai industri baru itu posisi kita sebenarnya masih sebatas konsumen.

Jadi, jika hari ini Rhenald Kasali bicara tentang Tokopedia, misalnya, dia tak lebih maju dari Widjojo Nitisastro yang membicarakan Astra empat puluh lima tahun lalu. Tak ada bedanya antara pengayuh becak di tahun 1960-an dengan menjadi pengemudi taksi online di tahun 2019. Keduanya masih berada di lantai yang sama dalam piramida modal internasional dan industri global.

Kita butuh seorang pemimpin yang bisa membangkitkan rakyatnya. Bukan seorang pemimpin yang meninabobokan rakyatnya dengan jaringan kabel optik, serta berbagai infrastruktur canggih, yang seolah membuat kita maju, padahal kita sebenarnya hanya jadi jongos saja di ruangan ber-AC dan kantor mentereng milik jaringan modal global.

Jongos adalah jongos, meskipun tangannya menggenggam gadget mutakhir, dan dunianya tersambung pada internet broadband. Internet dan gawai canggih tak membuat jongos masa kini lebih baik posisinya dari para jongos di zaman kolonial.

Sekali lagi, kita butuh pemimpin yang bisa membangkitkan rakyat. Bukan pemimpin yang sekadar bergaya bisa ini dan itu, tapi artifisial. Apa artinya bergaya milenial, jika mentalitasnya masih seperti inlander di zaman kolonial?!

Tarli Nugroho

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.