Home Nasional Hukum Diskusi Quo Vadis Panca Bhakti? “Arah Politik Partai Golkar Pasca Pilpres 2019”...

Diskusi Quo Vadis Panca Bhakti? “Arah Politik Partai Golkar Pasca Pilpres 2019” Diteror

0

POROSNEWS.COM – Anak muda Golkar, Garda Panca Bhkati menggelar Sharing discussion siang tadi dengan tajuk Quo Vadis Panca Bhakti? “Arah Politik Partai Golkar Pasca Pilpres 2019” bertempat di Bumbu Desa Cikini Jumat ,12 April, 2019, menghadirkan 4 narasumber yaitu Khalid Zabidi, Syamsul Rizal, Mirwan B Vauly dan Haris Rusli Moti seorang pengamat dan aktivis politik nasional dengan moderator Denny Firmansyah.

Diskusi sempat diwarnai kericuhan dan diteror saat segerombolan orang berpakaian kuning mencoba menghentikan acara diskusi, mereka berteriak agar diskusi itu dibubarkan karena di anggap tidak sejalan dengan kehendak mereka namun akhirnya panitia dapat menghalau mereka keluar ruangan dan diskusi tetap dilanjutkan, hingga berita ini diturunkan bekum jelas siapa identitas gerombolan yang mencoba menghentikan diskusi.

Dalam diskusi terungkap keprihatinan para kader Golkar terkait peran dan posisi Golkar dalam dinamika politik nasional yang berkembang, Syamsul rizal menyatakan “Di masa Ketua Umum Golkar Setya Novanto Golkar mulai menari diatas gendering kekuasaan, hari ini Golkar bukan lagi menari melainkan menjilat kekuasaan sehingga kami memandang Golkar kehilangan marwahnya dan Golkar tidak lagi mejadi penentu arah politik nasional,” ujarnya.

Pernyataan serupa juga keluar dari Mirwan B Vauly “Golkar hanya menjadi penonton, watching the movies ditengah panggung politik yang paling menarik 5 tahunan, yang manggung hanya PDIP dan Gerindra dan mendapat keuntungan electoral”.

Haris Rusli Moti merujuk kepada sejarah bedirinya Golkar menganggap Partai Golkar haru kembali kepada nilai dasar berdirinya Partai Golkar. Golkar dianggap partai yang mampu mengatasi dan bertransformasi dalam setiap dinamika politik yang terjadi. “Golkar adalah Indonesia mini yang berisikan beragam kelompok dari kelompok agama, militer, nasionalis, sosialis dan murba kecuali komunisme karena kelahiran Golkar emang antitesa terhadap komunisme,” jelas Haris.

Sementara itu Khalid Zabidi berharap Golkar bisa berperan besar pada situasi politik bangsa yang sedang dilanda pengkutuban ideologi dan politik identitas sesama anak bangsa, Golkar harus bisa menjadi penengah dan penyeimbang dengan nilai-nilai ideologi Golkar yang berangkat dari Pancasila. “Sehingga suhu politik yang makin panas ini bisa cepat mereda dan adem kembali,” ujar Khalid.

Kesimpulan dari diskusi ini para pembicara sepakat pada satu hal bahwa Partai Golkar adalah partai yang mampu memberikan jalan keluar bagi situasi politik nasional yang dianggap telah salah arah atau menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. |PRS/HND

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.