Home Uncategorized HITUNG CEPAT DAN SUARA HASRAT

HITUNG CEPAT DAN SUARA HASRAT

0

Oleh Acep Iwan Saidi

Pemilu adalah pesta demokrasi. Demokrasi perdefinisi adalah soal bahasa (tuturan, bunyi, suara). Faktanya, pemilu memang pesta suara. Euforia suara sejatinya terjadi dalam massa kampanye. Dan berhenti tepat pada masa tenang dimulai, menuju pemungutan suara.

Suara lantas dipungut di sebuah bilik sempit yang disebut Tempat Pemungutan Suara (TPS). Logikanya, setelah dipungut, suara sejatinya raib. Di situ suara dikonversi menjadi Makna. Pada titik inilah, Suara Rakyat akan menjelma menjadi Suara Tuhan. Ia melahirkan Kuasa. Rakyat  sendiri terserap di dalam kuasa itu menjadi energi. Maka terjadilah apa yang ingin saya sebut Manunggaling Kawularaja. Wibawa raja berbanding lurus dengan martabat Rakyat.

Tentu butuh proses yang bermartabat pula untuk mengkonstruksi kuasa Manunggalingkawularaja sedemikian. Bisa jadi juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Masalahnya, kini kita sedang berada dalam “abad yang  berlari” (meminjam Afrizal Malna), kita sedang terlibat dalam Revolusi 4.0 (Puih!!). Segalanya dipacu dalam kecepatan hantu. Kuasa harus segera digeret dari ruang meditasinya, harus segera dilahirkan!

Di situlah Quick Count hadir sebagai “dokter bedah” yang mengoperasi sesar Kuasa dari rahim Suara. Benar bahwa dokter bedah ini lahir dari sejarah yang justeru memang untuk melahirkan “bayi kuasa Suci”, yang bersih dari dosa bawaan (Kasus pemilu Filipina). Tapi, faktanya, di Indonesia tidaklah demikian. 

Ketimbang untuk membidani lahirnya “bayi kuasa yang Suci” sedemikian, di negeri kita justeru melahirkan hal yang sebaliknya. Quick Count menjadi “dokter bedah” yang memfasilitasi hasrat kuasa. Bayi kuasa harus segera lahir, dibetot sedemikian rupa sehingga ia menjadi sangat prematur. Akibatnya, alih-alih menghasilkan konstruksi manunggalingkawularaja, yang lahir justeru lipatganda kegaduhan suara. Suara Rakyat tidak berubah menjadi Suara Tuhan, melainkan menjadi Suara Setan.

Mengapa? Jawaban utamanya adalah ketidakpercayaan pada “dokter bedah” tadi. Ini terjadi sebab umumnya “dokter bedah” tidak transparan dalam sikap. Cara membedahnya memang meyakinkan. Mereka menggunakan pisau ilmiah dengan data yang representatif. Di situ, mereka berhasil mengambil jarak  dengan objek. Dan objektivitas ini selalu dibuktikan oleh hasil akhir, yakni ketika hitungannya bersesuaian dengan hasil kerja lembaga resmi (real-count dari KPU). 

Akan tetapi, pada tataran sikap, umumnya “dokter bedah” itu sama sekali tidak ilmiah. Gejala umum atau hal yang sudah diangap biasa adalah ketidaktransparanan di mana mereka berdiri. Pada tingkat yang paling absurd, beberapa di antaranya justeru menjadi juru kampanye salah satu pihak yang sedang berkompetisi seraya, lagi-lagi, tidak transparan (tidak berterus terang). Dokter bedah macam ini jelas bukan hanya tidak memiliki sikap ilmiah, tetapi telah melakukan tindakan kriminal kepada salah satu pihak yang menjadi lawan majikannya. Ia telah memaksa pihak itu (dan publik) untuk memercayai bahwa dirinya jujur sementara ia sendiri menjadi “kacung” dari lawan mereka. Ini jelas penghinaan terhadap nalar-kultural, tidak berbudaya, absurd dari puncak sampai ke dasar jika tidak mau dikatakan tidak beradab.

 Mengapa mereka bekerja demikian? Tidak perlu meminum seluruh isi gelas untuk merasakan manisnya susu, cukup mencicipi satu sendok saja. Itu salah satu jawaban untuk meligitimasi kerja ilmiahnya. Perspektif sinkronik ini benar. Perhatikan, misalnya, cara bekerja linguistik struktural Sausurian. Untuk memahami bahasa Anda harus mempelajari sistemnya, bukan pada kerenikan ekspresi ujaran individu. Potongan batang kayu akan mewakili seluruh serat kayu, sedangkan membelah kayu, meskipun bisa memanjang tetap saja menghlangkan sebagian seratnya.

Analogi tersebut menegaskan bahwa cara kerja ilmiah mereka betul-betul memisahkan teks dari konteks. Ekspresi (ujaran individu), dalam hal ini bisa dibaca sebagai kompleksitas masyarakat penutur (produsen suara) telah diabaikan. Di sini, lagi dan lagi, kita menangkap semacam paradoks. Mereka bekerja dalam kompleksitas, tapi mengabaikan kompleksitas itu sendiri. Ditarik ke dalam sikap, di situ kita menangkap semacam arogansi ilmiah. 

Dan itu sebenarnya sikap modernis yang kuno. Kini kita tidak berada lagi dalam filsafat ilmu pengetahuan yang mendewakan rasionalitas sedemikian. Pusat filsafat sudah lama berpindah ke bahasa. Justeru hari ini adalah “zaman tuturan”, zaman siapapun bisa bebas bertutur. Bukankah hal demikian adalah tanda dominan dari demokrasi. Kini kita tidak lagi berada pada zaman monodisiplin, melainkan inter- bahkan transdisiplin. Maka cara kerja dan, terutama, sikap dokter bedah Quick count yang monodisiplin dan mengabaikan konteks macam itu kedepan harus ditinggalkan. Jika tidak, quick count hanya akan membidani kegaduhan, bukan menciptakan konstruksi kuasa manunggalingkaularaja: arsitektur kuasa demokratis yang merupakan persenyawaan Rakyat dan Pemimpinnya.

Bandung, 19/04/2019
Menjelang Tidur

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.