Home Uncategorized KITA MENANG KARENA KITA JUJUR DAN ADIL

KITA MENANG KARENA KITA JUJUR DAN ADIL

0

KITA MENANG KARENA KITA JUJUR DAN ADIL
Oleh: Radhar Tribaskoro

Kenapa ya mereka itu susah sekali dikasih mengerti? Dalam sebuah kompetisi menang dan kalah soal biasa. Yang kita persoalkan adalah menang dan kalah itu mestilah muncul dari kompetisi pemilu yang bersih, berkualitas dan bermartabat. Untuk itu kita menuntut penyelenggara yang adil dan jujur.

Apakah itu tuntutan yang berlebihan?

Di dalam sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia, tuntutan atas penyelenggara yang adil dan jujur selalu muncul. Ini adalah isu yang laten, tidak pernah hilang bahkan semakin kuat menggema dalam jagad pemilu kita. Kita berada dalam suatu era yang diwarnai oleh ketidakpercayaan kepada KPU.

Pilpres 2019 sekarang ini adalah puncak ketidakpercayaan itu. Dimulai dengan capres petahana yang tidak bersedia mengambil cuti. Ia pergi ke seluruh penjuru Indonesia dengan uang negara, katanya untuk tugas negara namun setelah itu ia berkampanye. Kandidat petahana ini seorang presiden, yang tidak malu apalagi sungkan menyuruh pengawalnya membagikan “salam tempel”, mengangkut macam2 hadiah kampanye dengan mobil negara, mengerahkan aparat negara untuk mengumpulkan massa dsb. Dan di dalam semua peristiwa itu tidak ada satu komen muncul dari penyelenggara pemilu, yaitu KPU dan Bawaslu.

Para pendukung capres petahana berdalih bahwa tidak ada ketentuan yang mengharuskan capres petahana cuti. Ini sebuah kesalahan mengingat semua pejabat negara yang mengikuti pilkada dan pemilu diharuskan mengundurkan diri, bukan cuma cuti. Namun ketiadaan aturan itu tidak kemudian membikin presiden petahana semau sendiri. Dia harus menimbang sisi kepantasan moral, dia sendiri yang harus merunduk untuk levelling the playing field.

Jangankan merunduk presiden petahana justru memanfaatkan seluruh kekuasaan yang melekat pada dirinya untuk memenangkan kekuasaan. Puluhan trilyun diturunkan untuk aneka bansos menjelang pemilu, gaji hadiah lebaran pegawai negeri pun dibayarkan walau puasanya saja belum tiba. Polisi dikerahkan untuk memberikan keuntungan politis.

Lebih dari itu politik uang bertebaran dimana-mana. Hanya KPK yang bertindak. Polisi yang mempunyai kuasa masif berdiam diri.

Alhasil, kecurangan telah terjadi dimana-mana sepanjang pemilu 2019 ini. Namun kekalahan mengembang di pelupuk mata. Ponsel tokoh2 oposisi dikloning, nomor2 saluran komunikasi dan informasi diblokade, percakapan disadap, dan server2 diretas, untuk apa semua itu?

Dan sekarang ketika kami melindungi hak-hak kami dengan bekerja mengumpulkan dokumen2 penghitungan suara kami dianggap berlebihan, tidak taat hukum, tidak paham ilmu pengetahuan, mental orang kalah, dan macam2 penghinaan lain.

PRET! Emang elo siapa?

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.