Home Uncategorized PEOPLE POWER UNTUK MENGEMBALIKAN ARAH BANGSA

PEOPLE POWER UNTUK MENGEMBALIKAN ARAH BANGSA

0

PEOPLE POWER UNTUK MENGEMBALIKAN ARAH BANGSA
Oleh: Pradipa Yoedhanegara

Sebagai kata pembuka “Curang dan Bohong”, bukanlah budaya bangsa Indonesia. Pemilu yang telah dilaksanakan pada 17 April 2019 beberapa waktu yang lalu, rakyat di seluruh negeri mungkin telah sepakat kalau, “demokrasi kardus” adalah pemilu terburuk dan paling buruk sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemilu yang paling brutal pernah diselenggarakan oleh bangsa ini.

Begitu sangat masifnya “kebohongan dan kecurangan” dipertontonkan dihadapan publik secara gamblang dan kasat mata, kemudian para pelakunya tanpa punya rasa malu serta tanpa sadar bahwa “Prilaku Curang dan Bohong” tersebut, kelak akan kita warisi bagi generasi di masa mendatang yakni generasi penerus bangsa yang lahir melalui proses mekanisme pemilihan yang penuh kecurangan dan kebohongan publik.

Mempertontonkan serta mempertahankan kecurangan dan kebohongan, dalam demokrasi kardus bukanlah tradisi politik yang baik untuk di warisi bagi generasi di masa mendatang. Pemilu yang jauh dari “azas jurdil”, membuat legitimasi pemilu tersebut menjadi pertanyaan dan tanda tanya besar bagi sebagian rakyat di negeri ini yang menghendaki adanya perubahan kepemimpinan nasional melalui mekanisme pemilu yang seharusnya dilaksanakan dengan jurdil.

Bersikap curang, culas, berbohong dan tidak adil, kini sepertinya sudah menjadi budaya dalam pemilu di negeri ini. Meski banyak pihak yang memberi apresiasi terhadap peyelenggaraan pemilu kemarin, buat saya pribadi pemilu paling fairness sejak 1955 sudah tidak ada lagi dan pemilu kemarin hanyalah dagelan pertunjukan kekuasaan yang sewenang-wenang dengan menjadikan pemilu sebagai alat untuk melegitimasi kepemimpinan para politikus pembohong di negeri ini.

Nasi sudah jadi bubur, cara-cara Opsus yang di praktekan dalam pemilu di era 70an ke era pemilu di massa milenial seperti saat ini, merupakan metodelogi paling kampungan dan norak. Para penyelenggara pemilu gagal memberikan warisan nilai yang baik terhadap generasi ke depan yang nantinya akan mencontoh atau melakukan hal yang sama seperti pemilu saat ini, yaitu berprilaku yang curang dan berbohong untuk memenangkan kompetisi dengan menghalalkan pelbagai macam cara.

Sejak awal pemilu ala demokrasi kardus ini kental akan adanya aroma kecurangan, mulai dari dibuatnya regulasi pemilu di parlemen mengenai batas ambang batas presidential dan ambang batas parlemen, kemudian regulasi yang mengizinkan pemakaian kardus dan adanya aturan bagi orang gila untuk memilih. Setelah seluruh regulasi berhasil di undangkan mulailah metodelogi mengumpulkan para lembaga survei ke istana agar survei politik sesuai dengan hasil pesanan dari kelompok tertentu.

Setelah regulasi dan lembaga survei berkumpul dalam satu nada dan irama, mulailah yang mulia orang nomer satu di negeri ini, meminta kepada TNI/Polri untuk menyuarakan keberhasilan pemerintah di seluruh negeri. Bukan hanya itu seluruh media mainstream pun diatur dengan pola intimidasi ala jaringan Opsus yang kini bergentayangan mengelilingi rezim saat ini. Selain itu mobilisasi pun terjadi di semua kementrian dan bumn untuk memilih petahana dan siapapun yang memilih berhadapan dengan petahana harus siap dengan konsekwensi non job atau menjadi bahan bully para pendukung rezim.

Menjelang hari H pelaksanaan pemilu demokrasi kardus ini di selenggarakan, ternyata suara rakyat yang menginginkan perubahan berbeda dengan hasil pemilu kardus yang begitu sangat masifnya melakukan “kecurangan dan kebohongan publik”. Suara rakyat tanpa ampun di bajak oleh tangan-tangan petualang politik ala lembaga survei yang terlebih dahulu telah di kondisikan oleh pihak istana yang mengumumkan hasil quick count yang sempelnya diambil melalui mekanisme pemilu yang penuh dengan kecurangan.

Rakyat yang memiliki akal sehat tentu tidak mudah diyakinkan oleh hasil QC, dan mereka lebih percaya dengan hasil hitung TPS ketimbang hasil QC. Kenapa rakyat tidak lagi percaya terhadap hasil QC, itu disebabkan karena para surveyor tersebut jauh hari sebelumnya sudah berkumpul di istana. Kepercayaan dan simpati publik pun hilang terhadap kaidah keilmuan karena seringkali survei meleset dari hasil akhir dalam pemilihan dan para surveyor tersebut banyak yang berafiliasi dengan partai pendukung rezim atau disewa untuk memenangkan parpol tertentu yang juga menjadi bagian pendukung rezim.

Banyaknya lembaga survei yang tidak berani berterus terang dengan membuka kontrak politik mereka kepada publik, tentang siapa parpol dan pengusaha yang membayar mereka bisa jadi salah satu penyebab ketidak percayaan publik terhadap lembaga survei tersebut. Kini kisruh yang terjadi dalam pemilu akan menjadi akumulasi makin bertambahnya ketidakpercayaan publik, dan dapat menyebabkan gelombang kemarahan publik yang begitu besar jika tidak bisa dicarikan solusi yang konfrehensif dalam menyelesaikan polemik yang terjadi dalam pemilu kemarin.

People power yang ditawarkan oleh mantan ketua mpr Amin Rais, mungkin bisa jadi solusi untuk mengembalikan arah bangsa yang selama lebih dari empat setengah tahun ini menjadi carut marut. Para pemimpin yang dengan mudahnya berbohong dan berbuat curang serta memanipulasi fikiran publik secara gamblang bisa dimintai pertanggung jawaban langsung oleh rakyat dengan gerakan people power seperti yang terjadi di era tahun 1966 dan 1998.

Aksi people power bukanlah barang haram dipelbagai negara, dan sejarah dunia pernah mencatat sejumlah aksi people power yang akhirnya membuat jatuhnya kekuasaan para pemimpin dzolim melalui demonstrasi rakyat diseluruh penjuru negeri. Salah satu aksi people power yang paling fenomenal dan pernah terjadi adalah di Philipina dengan jatuhnya presiden Ferdinand Marcos pada tahun 1986. People power di Philipina tersebut terjadi karena Marcos dianggap telah melangar konstitusi dan melakukan banyak penyimpangan.

Protes rakyat terhadap KPU yang menginginkan pemilu Jurdil jangan dianggap enteng, karena sudah ada ajakan people power apabila pemilu tidak dilaksanakan dengan jurdil. Gerakan people power yang terjadi dibanyak negara karena adanya kesamaan tuntutan yaitu tentang “keadilan”, dan rezim dianggap publik telah melakukan penyimpangan terhadap konstitusi.

Selain sudah adanya isyu besar bersama tentang keadilan, hasil QC pilpres ini telah menjadikan prabowo subiyanto sebagai tokoh central kekuatan oposisi yang akan menjadi penentu arah terjadinya gerakan People power di negeri ini. Gerakan people power yang terjadi akibat skandal pemilu yang penuh kecurangan terstruktur, dan masif akan mirip seperti revolusi EDSA di Philpina, tetapi akan seperti revolusi bunga di portugal pada 1974, yang menandai berakhirnya rezim Salazar di portugal.

Isyu people power jangan lagi dianggap enteng oleh para penyelenggara pemilu, dan para penyelenggara negara. Akumulasi kekecewaan rakyat akan sampai pada puncaknya apabila para penyelenggara pemilu abai terhadap tuntutan rakyat. Para wasit dan hakim garis yang sudah kehilangan wibawanya sebaiknya mundur dari ruang publik agar tercipta suasana yang kondusif.

Sebagai bangsa yang besar sepertinya kita telah meninggalkan jati diri bangsa, yakni keluar dari Undang-undang dasar 1945 dan keluar dari nilai didalam Pancasila. Mungkin dengan adanya gerakan people power yang digagas oleh Amin Rais, akan dapat mengembalikan bangsa ini kedalam jati diri sesungguhnya yakni bangsa yang jujur, tidak curang dan mengembalikan Undang-undang dasar 1945 serta Pancasila ketempat sediakala yaitu sebagai nilai luhur bangsa Indonesia yang Berbhineka Tunggal Ika.

Sebagai pesan penutup, bangsa ini dibangun dan didirikan oleh para pendiri bangsa dengan mengedepankan nilai moral dan etika dalam berpolitik, para pendiri bangsa tidak pernah mengajarkan pemilu yang curang dan manipulatif. Jadi para penyelenggara pemilu belajarlah dari hasil pemilu 1955 yang tidak ada rekayasa maupun kecurangan, karena saat itu bangsa ini dipimpin oleh para penyelenggara pemilu yang jujur dan tidak banyak berbohong.

Waallahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamuallaikum Wr, Wb.
Bandara Soetta, 22 April 2019
🙏PYN🙏

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.