Home Uncategorized MATINYA SEMIOTIKA

MATINYA SEMIOTIKA

0

Oleh Acep Iwan Saidi

Sahabat FAMMI, ketika sekitar pk 9-an tadi pagi Uda Akmal meminta sy untuk bertugas menstimulasi diskusi yg fokusnya ke arah strategi “Memenangkan Indonesia” pasca pilpres, yg untuk sy khusus dari perspektif semiotika, dgn segera pikiran sy menjawab, semiotika tidak punya strategi untuk hal tersebut. Kekacauan tanda yg terjadi hari ini menyebabkan saya tidak berkutik. Saya merasa semiotika telah mati. Jika Umberto Eco menyebut bahwa semiotika adalah ilmu tentang dusta, maka kini ia dibunuh oleh dusta itu sendiri.

Dalam wacana pasca kebenaran, dusta yg terus berulang konon akan melahirkan kebenaran, seperti kepastian yg lahir di puncak keraguan (Bacon). Tapi, saya tidak setuju itu. Saya tidak melihat bahwa kita sedang berada dalam zaman pascakebenaran sebab kebenarannya itu sendiri tidak pernah kita miliki. Kita hidup dalam sejarah dusta dan dusta sejarah sejak awal.

Itu sebabnya mengapa tadi saya hanya bisa membaca puisi. Subagio Sastrowardoyo pernah bilang bahwa puisi mampu mencegah kita dari tindakan bunuh diri. Dan bagi saya, puisi adalah rumah, tempat untuk saya bisa kembali. Di situ, kembali ke dalam rumah menjadi semacam jalan keluar juga.

Oleh sebab itu, ketika tadi Bang Ramadhani meminta sy bbrp kalimat tanggapan di luar puisi, saya tidak bisa mengatakan apapun yg genuine secara semiosis, atau secara umum dari perspektif kebudayaan. Kebudayaan kiranya memang bukan jalan yg bisa dipotong atau memotong kompas sehingga kita bisa dgn cepat sampai ke tujuan. Kebudayaan, sebagai sebuah strategi, tidak bisa menuntaskan persoalan genting yg kita anggap penting dalam waktu yg mendesak.

Lantas, mengapa tadi sy menjawab “penegakkan hukum” yg harus ditekan semaksimal mungkin agar ia nyata berdaya sebagai jalan keluar, saya kira itu hanya sebuah mekanisme untuk menghindar, sebuah retorika dlm diskusi😁. Saya sendiri tidak yakin dgn jawaban itu😁.

Jikapun hukum bisa mengeluarkan kita dari lorong gelap demokrasi saat ini, tidak ada jaminan bahwa “kuasa” yg lahir dari “rahim suara” yg telah dibuat cacat itu dapat tumbuh menjadi bayi yg sehat. Kita betul-betul sedang berhadapan dgn buah simalakama. Dimakan ibu wafat, tidak dimakan ayah gugur (mungkin justeru jawaban yg tepat ada pada rekan2 dari ranah minang/padang yg tadi hadir, yakni dijual saja😁)–barangkali itu juga yg dimaksudkan Pak Haz tadi, meskipun Beliau bukan dari Padang🙂.

Baiklah, sahabat Fammi, saya ingin tinggalkan itu. Saya ingin sedikit cerita yg lain.

Tadi, sesuai saran Kang Eep, saya naik gojek (go ride) ke Gambir, mengejar kereta pk 17.02 Agak telat gojeknya datang. Tapi, ketika tiba, driver meyakinkan bisa sampai Gambir pk 16.45.

Lima belas menit perjalanan driver itu bertanya, “Apa Bapak tahu rutenya?”. Saya terkejut dan segera punya firasat, pasti akan telat. Segera dgn itu juga sy menyiapkan diri untuk bersabar🙂.

Beberapa menit kemudian ia menjelaskan bahwa hpnya mati. Jadi, tidak ada navigasi. Secara kebetulan hp saya juga habis batrenya.

Saya agak lega sebab lalulintas rupanya nggak terlalu padat. Tapi, sebab tidak tahu rutenya, beberapa kali driver berhenti, menanyakan arah kepada sesama gojek yg berhenti di beberapa gang. Saya cuma tersenyum dalam hati.

Qodarullah, tiba di Gambir pk 17.19. Tentu kereta sudah berlalu. Lebih dari sekedar meminta maaf, si driver yg merasa bersalah bersedia untuk tidak dibayar. Tentu saja saya tidak memanfaatkan kesempatan itu. Jika sy tidak membayarnya, tentu yg tekor hari ini bukan hanya saya, tapi juga driver itu dan anak istrinya di rumah🙂. Sambil membayarnya saya beri saran sedikit:

“Lain kali pastikan bahwa kamu tahu arah ke mana penumpangmu menuju, siapkan perangkatmu dgn baik. Jangan salah input, jgn seperti KPU!” (Kalimat terakhir taksempat diucapkan😁)

Saya pergi ke loket untuk pesan kereta berikutnya. Masih ada, tapi nanti, pukul 23.00. Sy putuskan ke kafe sebentar untuk menghapus gerah. Istri saya bilang di ujung telepon, menginap aja, pulang pake kereta besok pagi. Usul yg baik jika besok tidak ada kuliah di iTB🙂.

Akhirnya saya banting stir, ganti moda, pake travel dari SCBD. Sy pesen dua jadwal, pk 19.00 dan 20.00. Tiba di SCBD pukul 19.05. Jadi, harus naik yg pukul 20.00 sebab yg pk 19.00 sudah berangkat. Sampai pukul 20.05, mobil dari bandung untuk jadwal ini belum datang. Lucunya, yg jadwal 20.30 justeru sudah tiba. Jika yg pukul 20.00 tidak datang juga dan yg 20.30 kosong (biasanya ada yh cansel), saya akan naik yg 20.30.

Hari yg menarik. Sy tidak lelah, dan tidak tegang. Semuanya terhapus oleh silaturahim tadi yg menyenangkan. Kang Eep dan Mbak Sandrina, Tuan Rumah yg luar biasa ramah. Barakallah, Kang Eep dan Mbak Sandrina. Sukses dan terus bahagia. Aamiiin.

Juga sahabat Fammi yg lain. Luar biasa. Bang Ramadani, puisi sy tidak ada apa-apanya dibanding karya antum.

Terima kasih semuanya. Rupanya sy jadi naik travel yg pukul 20.30.

Assalamualaikum warrahmstullah wabarokatuh🙏🙏

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.