Home Uncategorized KECURANGAN SISTEMATIS KPU

KECURANGAN SISTEMATIS KPU

0

KECURANGAN SISTEMATIS KPU
Oleh: Radhar Tribaskoro

Hasil hitung suara KPU telah dikompromikan. Kalau tidak, Prabowo mestinya sudah mengungguli Jokowi.

Kenyataannya sampai dengan pukul 18:45 tadi sore, situs pemilu2019.kpu.go.id masih terus mempertahankan posisi 55-45 untuk kemenangan paslon 01. Posisi ini sudah bertahan selama 5×24 jam lebih.

Posisi tersebut identik dengan hasil Quickcount yang dirilis 5 lembaga survei yang juga berada di kisaran 55-45. Mengapa ada kesamaan yang begitu rapat antara KPU dan Lembaga2 Survei? Sebuah dugaan mengatakan bahwa KPU telah dikompromikan (dimanipulasi) sehingga mengumumkan hasil sesuai quickcount dengan tujuan untuk menciptakan opini publik bahwa Prabowo-Sandi sudah kalah.

Dugaan ini perlu pembuktian tentunya.

REKAYASA HITUNG SUARA KPU

Saya mensinyalir adanya rekayasa hitung suara KPU berdasar snapshot hasil Hitung Suara KPU tanggal 22/4/19 pk 18:45. Rekayasa tersebut dilakukan dengan cara-cara sbb:

  1. KPU mendahulukan masuknya suara dari kantung2 suara Jokowi ketimbang Prabowo. Sebagai contoh, suara Jateng masuk 3.507.846, sementara Jabar hanya 2.354.816 suara. Seperti diketahui Jateng adalah lumbung suara Jokowi, sementara Jabar adalah kantung suara Prabowo dan dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia.
  2. KPU mengutamakan masuknya suara TPS yang memberikan margin untuk Jokowi yang melebihi rata-ratanya. Di Jawa Tengah misalnya, proporsi perolehan suara paslon 01 mencapai 77%. Sementara di Jawa Timur 70%. Dengan cara itu, dari kedua provinsi tersebut KPU menciptakan margin (kelebihan suara) 2.972.809 untuk Jokowi. Dengan margin sebesar itu dapat menutupi ketekoran di seluruh dapil lain sebesar 401.939. Alhasil Jokowi tetap menang dengan margin 2.570.870 suara.
    Bila pemasukan suara dinormalkan, saya yakin Prabowo sudah unggul per hari ini.
  3. Rekayasa di atas memperlambat kerja KPU secara signifikan. Sampai lebih 5 hari situs KPU baru menghimpun data kurang dari 17%. Padahal salah satu maksud diadakannya Hitung Suara secara online adalah untuk memberi kesempatan kepada peserta pemilu (capres dan caleg) untuk mengakses C1. Dengan telah berlalunya rapat pleno PPK pada hari minggu lalu maka hilang peluang caleg memperoleh manfaat dari keterbukaan KPU.

Jadi proses Hitung Suara KPU dalam hemat saya tidak ada hubungannya dengan prinsip keterbukaan dan memberikan manfaat kepada peserta pemilu maupun publik. Hitung suara itu adalah bagian dari upaya sistematis untuk membangun opini publik bahwa paslon 01 sudah menang.

Dengan kata lain, dapat diduga bahwa KPU telah menjalankan suatu skenario yang secara sistematis mengunggulkan salah satu capres ketimbang capres lainnya.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.