Home Uncategorized “WE ARE AT THE END GAME”

“WE ARE AT THE END GAME”

0

“WE ARE AT THE END GAME”
.
. priyadi setiawan – 15 Mei 2019
. . . . . . . . . . . . . . .
.

“We are at the end game”, kata Dr. Strange kepada Tony Stark, di dalam film Avengers: Infinity War.

“We are at the end game”. Artinya, kita ada di game terakhir yang akan menentukan akhir pertandingan.

“We are at the end game”. Artinya, sesudah ini tidak ada kesempatan lagi. Menang atau kalah ditentukan disini.

Kita saat ini ada di end game. Game akhir yang akan menentukan nasib dan arah perjalanan bangsa kita ke depannya. Kekuatan-kekuatan yang bersaing sama-sama tidak akan menyerah dengan mudah, sama-sama merasa punya alasan kuat untuk menang, dan sama-sama merasa siap berkorban besar.

“This is what happens when unstoppable forces meet immovable objects”…

Kekuatan-kekuatan di belakang kubu 01 sudah habis-habisan merancang dan merencanakan semuanya untuk merebut kursi kekuasaan eksekutif tertinggi di Indonesia. Entah sudah berapa puluh atau ratus Trilyun dihabiskan untuk kepentingan ini. (saya menduga mereka mengharapkan pengembalian hasil sejuta kali lipatnya). Bukan hanya kepentingan individu atau golongan jadi taruhan, tapi juga kepentingan dan masa depan sebuah bangsa yang merupakan kekuatan global raksasa saat ini. Sebagian dari mereka bertarung untuk mendapatkan sesuatu, sebagian lagi bertarung agar tidak kehilangan sesuatu. Kombinasi dari semua faktor ini menghasilkan sebuah tekad dan usaha yang habis-habisan.

Di belakang kubu 02, ada jutaan rakyat dan umat Islam Indonesia, didukung berbagai kekuatan nasional (dan kekuatan global raksasa juga yang saya tidak diijinkan mengungkapkannya sekarang). Di hati dan pikiran mereka ada masa depan anak cucunya yang dikhawatirkan akan hancur kalau kekuatan global di belakang kubu 01 dibiarkan menguasai Indonesia (pastinya secara de facto, mungkin bukan de jure), bukan saja dalam hal ekonomi, tapi juga dalam hal sosial, politik, bahkan akidah beragama. Untuk mereka, ini bukan urusan sepele. Ini urusan yang layak dan harus diperjuangkan dengan taruhan apapun. Untuk mereka, nilai perjuangan ini setara dengan yang diperjuangkan para pahlawan kemerdekaan beberapa puluh/ratus tahun yang lalu. Tujuan yang sama, taruhan yang sama, risiko yang sama.

Saat ini tidak ada yang akan mundur. Tidak ada yang akan menyerah.

Siapa yang akan menang? Itu akan ditentukan dalam end game ini…

Sun Tzu dalam The Art Of War mengatakan: “Perang adalah kontes moral yang dimenangkan sebelum perang sebenarnya dimulai”.

Sejarah membuktikan bahwa pemenang perang selalu adalah pihak yang paling yakin akan ketinggian, kemuliaan, dan kebenaran perjuangannya. Bangsa Indonesia bisa merdeka karena kemerdekaan adalah jauh lebih tinggi nilainya daripada harta jajahan untuk pihak penjajah. Bangsa Vietnam bisa menendang Amerika Serikat dalam perang Vietnam karena mereka mempertahankan kemerdekaan bangsanya, sementara Amerika “hanya” berkepentingan untuk mempertahankan posisi politik globalnya melawan komunis dan untuk menghabiskan anggaran dan aset militer mereka (kepentingan Military-Industrial Complex mereka). Bangsa Afghanistan mampu mengalahkan Uni Soviet, sebuah negara superpower saat itu, karena untuk mereka perang Afghanistan itu adalah urusan akidah dan kemerdekaan, jauh lebih tinggi dan mulia daripada kepentingan geopolitik dan minyak Soviet. Bangsa Amerika sendiri bisa merdeka tahun 1776, lepas dari cengkeraman imperialis Inggris yang merupakan superpower dunia saat itu, karena untuk mereka perang itu adalah urusan kemerdekaan. Untuk Inggris, ini hanya urusan daerah kolonial mereka.

Kalau menengok sejarah perkembangan Islam, pasukan perang Badar Rasulullah yang cuma 300 orang bsia menghancurkan pasukan kafir Makkah yang berjumlah 1000 orang. Kenapa? Rasulullah dan pasukannya berjuang untuk akidah dan keberadaan mereka, lawannya berperang untuk harta rampasan. (tentu saja pertolongan Allah menentukan di sini)

Saat ini, mana yang punya tujuan lebih “profound” dalam kontestasi politik Indonesia 2019? Yang satu kepentingannya adalah ekonomi dan bisnis, yang lain urusannya akidah dan kemerdekaan dirinya sampai ke anak cucunya. Beberapa minggu lagi, waktu akan membuktikan kebenaran Sun Tzu tersebut.

Pada saat kasus penistaan agama ahok sedang panas-panasnya, saya sempat mengatakan bahwa “saat ini hanya kekuatan umat Islam yang menghalangi ahok dan rezim jokowi untuk merebut kekuasaan DKI 1, karena seluruh lapisan pegawai negeri, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, sampai kekuatan finansial dari dunia bisnis sudah “dikuasai” rezim. Kalau kedua pihak ini tetap tidak ada yang mau mundur, maka ujungnya akan terjadi “Badar” perebutan kekuasaan RI 1”.

Sepertinya kata-kata saya terbukti.

Siapa yang akan menang?

Di DKI ahok kalah. Di pilpres April 2019, data Real Count C1 dari kubu 02 menunjukkan jokowi sudah kalah.

Jelas kubu 01 tidak menyerah. Mereka menantang adu data (sudah dilaksanakan, mereka tidak mau datang). Mereka menantang laporkan, sudah dilakukan ke Bawaslu. Sama seperti pada pilkada DKI 2017, saat ini semua lapisan aparat negeri, aparat hukum, dan aparat pelaksana pemilu sudah dikuasai rezim petahana yang tidak mau membedakan antara jokowi sebagai capres dan jokowi sebagai presiden hasil pemilu 2014.

Maka end game kemungkinan akan ditentukan di luar ruang pengadilan.

Ancaman-ancaman dari pihak 01 sudah ditebarkan, dari mulai tuduhan makar (padahal tidak ada urusan dengan jokowi sebagai presiden melainkan dengan kecurangan dalam pilpres 2019 dimana jokowi adalah capres), ancaman serangan teroris JAD (tiba-tiba polisi jadi bisa tahu akan ada serangan teroris pada waktu dan tempat tertentu, jauh-jauh hari sebelumnya, padahal kemarin-kemarin waktu ada serangan teroris polisi tidak pernah tahu sebelumnya), ancaman serangan racun, sampai kepada kriminalisasi tokoh-tokoh 02 dengan kasus-kasus lama yang sudah ditutup.

Sebagai jawaban, Prabowo mengatakan akan membuat surat wasiat, dan Sandiaga Uno mengatakan akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Mana yang akan menang?

Sejarah telah membuktikan: penjajah, tiran, diktator, tidak pernah menang.

Time will tell….

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.