Home HAM TNI Harus Intropeksi, Kenapa NKRI Mudah Ditembus Asing Saat ini

TNI Harus Intropeksi, Kenapa NKRI Mudah Ditembus Asing Saat ini

0
Hendrajit

Begitupun. TNI juga harus introspeksi kenapa begitu mudah NKRI ditembus asing saat ini. Selain miskin ilmu dan wawasan tentang strategi kolonialisme. Juga tidak berjiwa petarung. Dan tidak terlatih sebagai aktivis pejuang. Sehingga nggak punya naluri politik.

Waktu Seminar Angkatan Darat II pada 1966 menggagas sistem distrik pemilu dengan harapan para perwira yang nyalon lewat pemilu, beranggapan sistem distrik akan menguntungkan kader2 TNI yang bakal nyaleg atau nyabub dan nyagup.

Tiba tiba Pak Harto menawarkan dua pilihan ke angkatan darat. “Pilih mana, pakai sistem distrik kalian ikutan pemilu tapi belum tahu dapat berapa kursi. Atau saya kasih kalian 100 kursi di DPR tapi tanpa ikut pemilu.”

Akhirnya milih nggak ikut pemilu dan pasti dapat 100 kursi DPR. Tapi harga yang harus dibayar, harus ikut arah politik Suharto. Makanya selama 32 tahun TNI manut apa kata pak Harto.

Sontak 1998 semuanya berubah. TNI tidak senang. Sayangnya tidak senangnya itu bukan karena alasan ideologis atau terusik sebagai pejuang. Tapi karena dipreteli hak istimewanya.

Mengembalikan TNI sebagai tentara pejuang yang utama adalah merubah cara pandang dan pola pikir atas dasar adanya kesadaran baru melihat akar masalah yang terjadi di tanah air kita sekarang.

Dari silaturahmi ke beberapa jendral pensiunan setelah lebaran saya lihat ada kelompok kecenderungan di TNI sekarang ini. Pertama, penikmat kekuasaan dan kesenangan, seperti yang gabung di 01.

Kedua, yang lagi gusar dan resah terhadap kondisi bangsa di semua bidang saat ini. Tapi nggak punya ilmu atau pengetahuan sebagai senjata buat melawan. Kelompok kedua yang sebagian besar pro 02 atau ada juga yang nyatakan diri pro sapta margais tapi non 02 ini, pada akhirnya cuma sebatas curhat dari satu forum ke forum lainnya.

Ibarat kata bertempur tapi tak mengenal medannya. Berpolitik tapi tak mengenal hakekat pergerakan politik. Waktu Pak Harto menawarkan TNI 100 kursi DPR tanpa pemilu, pak Harto lah yang sesungguhnya bermain politik. Selain paham betul visi misinya.

Praktis Pak Harto 32 tahun menjinakkan politik TNI. Kayak Pawang singa. Itu baru sejatinya politik. Dwi fungsi ABRI cuma jargon aja. Karena dengan 100 kursi DPR TNI harus ikut politiknya Suharto. Bukan politiknya TNI.

Untungnya, politik Suharto sejalan dengan politiknya Panglima Besar Jendral Sudirman.

  1. JAGA PEKARANGAN DAN HALAMAN BELAKANG RUMAH KITA.
  2. POLITIK TNI ADALAH PANCASILA DAN UUD 1945.

Bayangkan kalau politik Pak Harto kala itu bertentangan dengan politik TNI nya Pak Dirman.

Inilah yang melatarbelakangi kegamangan TNI sejak era reformasi 1998 hingga kini. Yang tergambar jelas melalui perilaku para perwira aktif TNI maupun purnawirawan.

Hendrajit

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.