Home Uncategorized UIGHUR LAGI

UIGHUR LAGI

0

by M Rizal Fadillah

Tak tahan pada pelanggaran HAM yang dilakukan Pemerintah RRC terhadap Muslim minoritas Uighur di Provinsi Xinjiang akhirnya 22 Negara melalui perwakilan di PBB membuat surat kepada Dewan Tinggi HAM PBB (OH-CHR).
Isi surat pada pokoknya menyerukan dilepasnya tahanan dari “kamp reedukasi”, meminta dibuka “akses berarti” untuk tim independen, menghormati kebebasan beragama, berpedoman hukum nasional, internasional dan HAM, serta tidak sewenang wenang dalam memperlakukan muslim Uighur Xinjiang. Mereka menilai di dalam kamp reedukasi sejuta muslim Uighur mengalami indoktrinasi dan penganiayaan.

Negara Barat telah berbuat. Kini dunia Islam harus lebih banyak menyuarakan pembelaan pada upaya penghancuran etnis muslim oleh rezim komunis bejat. Persaudaraan muslim mesti ditunjukkan. Berkumpul kembali membahas kebersamaan untuk menekan penjajahan dan penghapusan etnis. Melawan kebiadaban yang berkedok “pendidikan”.
RRC kini mewakili dunia nir-moral yang menjadi kekuatan adi daya ekonomi dan politik sehingga berani nekad berbuat semaunya dalam menegakkan keyakinan ideologinya sendiri. RRC tumbuh menjadi “kekaisaran baru” dunia yang disegani, ditakuti, dan juga, anehnya, dibutuhkan.

Indonesia saat ini sepertinya menjadikan RRC sebagai negara besar yang dibutuhkan. Di tengah kehausan pembangunan ekonomi berbasis investasi, kehadiran RRC bagai air di kegersangan. Memenuhi dahaga. Soal bahaya menjadi nomor dua atau tiga atau sepuluh mungkin. Dahulukan pemenuhan kebutuhan baik investasi maupun hutang luar negeri. China menjawab kebutuhan itu. Investasi di infrastruktur disambut gembira dan proyek “jalan sutra baru” diikuti dengan ceria. Disiapkan titik titik strategisnya di Sumatra Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan Bali. Bicara ancaman ideologi komunisme dengan cepat ditepis dan dianggap ceritra masa lalu. Ekonomi bisnis lebih utama.

Efeknya pada peristiwa ketidakadilan dalam kasus Uighur. Indonesia tak bisa berbuat apa apa. Konon upaya dilakukan bilateral tetapi diakui belum ada pembicaraan khusus mengenai Uighur tersebut. Sudah diduga diplomasi kita akan macet, tersedak, dan penuh ketakutan. RRC-Indonesia sedang hangat dan bersahabat bahkan mungkin terkesan telah terjalin poros Jakarta-Beijing.
Alasan pembahasan bilateral tak jelas dan tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannnya kapan dan dimana. Apa pula titipan kata katanya.

Kejahatan kemanusiaan China terhadap muslim Uighur seharusnya menjadikan Indonesia berada di depan untuk memimpin negara muslim dunia dalam “menekan” China. Tapi kondisi politik dan kebijakan politik negara nampaknya membuat jauh panggang dari api.
Beginilah nasib negara jika ekonomi dan politik tergantung. Tidak merdeka.

*) Pengamat Politik

Bandung, 13 Juli 2019

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.