Home Nasional Hukum HAJI DAN JIHAD

HAJI DAN JIHAD

0
M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Daftar tunggu jama’ah haji Indonesia dari tahun ke tahun meningkat dan makin lama saja rentang waktu keberangkatan. Ini artinya semangat berhaji itu tinggi. Menunaikan rukun Islam ke lima dan menyempurnakan ibadah lainnya semata karena Allah SWT “Sempurnakan ibadah haji dan umroh karena Allah” (QS 2:196).
Di samping sebagai kewajiban haji juga adalah harapan dan kenikmatan. Haji mabrur balasan-Nya surga. Umat berlomba mengejarnya. Pantas jika jumlah yang ingin berhaji semakin meningkat. Allah SWT memuliakan hamba-hamba yang bertamu ke Rumah-Nya. Baitullah.

Haji tidak berhenti setelah pulang atau selesainya. Haji mabrur diuji dengan amal setelah selesai melaksanakan ibadah tersebut. Amal tinggi adalah berbuat untuk Allah, berbuat untuk agama-Nya. Membela dan mengembangkannya. Inilah jihad itu. Haji yang sukses di samping mampu memperbaiki ibadah lain seperti shaum, zakat, dan shalat, juga meningkatkan manfaat diri bagi lingkungan sosialnya. Dan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir ia akan memaksimalkan apa yang ada pada diri dan dimilikinya untuk menegakkan, memulyakan, dan membela agama Allah SWT.

Haji dan jihad adalah satu kesatuan sebagai amal terbaik (HR Bukhori-Muslim) bahkan jihad itu merupakan peningkatan dari ibadah haji (QS At Taubah 19) sehingga mereka yang telah memiliki predikat haji tidak boleh hanya menjadikan ibadah sebagai kepuasan diri semata. Ada tanggungjawab yang berkaitan dengan perjuangan nilai keagamaan. Mengubah kemungkaran dan membela kebenaran. Mengoreksi dan mencari solusi.

Di segala bidang kehidupan selalu ada kemungkaran dan kebenaran. Haji mabrur bukan saja peduli akan tapi berbuat dengan sekuat tenaga untuk mengubah kemungkaran menjadi lurus dan benar kembali. Mereka yang telah berhaji adalah mujahid. Andai jumlah haji yang banyak itu mampu menempatkan diri sebagai pejuang, penggerak dan penegak kebenaran serta pengubah kemungkaran, maka betapa dahsyatnya perubahan yang dapat terjadi dalam berbagai bidang itu.

Gerakan perubahan ekonomi, budaya, atau politik ke arah yang lebih baik adalah jihad sabilillah. Liberalisme, kapitalisme, dan riba adalah kemungkaran ekonomi. Sekularisme, komunisme, dan otoritarianisme adalah kejahatan politik. Pragmatisme, hedonisme, dan ambivalensi merupakan kerusakan budaya. Paganisme, kemusyrikan dan kedurhakaan adalah dosa dan maksiat dalam agama. Semua mesti diubah oleh tangan, lisan, dan do’a para haji. Mereka yang telah berhaji itu “ahli” dalam melempar syaithan di jamarot. Kini mereka dituntut untuk menjadi pejuang dalam melawan para perusak yang terstruktur dan masif mengembangkan ajaran politik, ekonomi, serta budaya yang sesat. Haji adalah ritual untuk fungsi sosial, kultural dan struktural.

Jamaah haji Indonesia yang terbesar di dunia, menjadi duta peradaban. Menjadi pasukan terdepan pembelaan kezaliman dunia global. Benteng pertahanan pelecehan nilai moral dan agama. Malu berhaji jika tidak berjihad. Apalagi dengar “jihad” saja sudah sensitif dan takut disebut radikal atau intoleran. Benar mungkin nanti yang disebut shalat tapi tidak shalat, shaum hanya lapar dan dahaga, lalu haji pun hanya wisata. Lalu bernostalgia.
Moga lebih banyak umat Islam yang berhaji itu menambah jumlah pejuang agama yang berjihad untuk agama dan syari’at-Nya.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Bandung, 24 Juli 2019

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.