Home Kolom Dialog Geopolitik: Indonesia dalam Ketergantungan Dunia di Bidang Energi & Pangan

Dialog Geopolitik: Indonesia dalam Ketergantungan Dunia di Bidang Energi & Pangan

0

Minggu 18 Agustus 2019. Museum Kebudayaan Kota Bandung.

Seri dialog geopolitik bertajuk Indonesia dalam ketergantungan internasional di bidang energi dan pangan, atas prakarsa mbak Nuning Hallett berlangsung sukses. Seminar yang digelar di Museum Kota Bandung ini, berlangsung sukses, bukan saja karena animo antusiasme peserta aktif. Tapi juga karena guliran isu yang disampaikan kang Aendra Medita, bang Paskah Irianto dan saya, mendapat umpan balik sesuai harapan. Memantik kesadaran baru dan juga harapan.

Aspirasi bawah sadar para peserta, yang moderator dan narasumber coba kita serap dan aktualisasikan melalui forum, bahwa kita tahu saat ini sedang dijajah di bidang sosial ekonomi dan sosial budaya. Namun untuk membebaskan diri dari keterjajahan, kita harus mampu membebaskan diri dari belenggu pengetahuan umum. Suatu cara pandang baru dan berpikir out of the box, untuk keluar dari krisis keterjajahan kita.

Maka perlu strategi kebudayaan untuk membangkitkan bangsa dari keterpurukan, dengan memberdayakan kembali empat sektor vital nasional: Pertanian, Industri, IPTEK, dan Pertahanan. Dengan mengikutsertakan seluruh sumberdaya intelektual bangsa. Baik pusat dan daerah.

Gagasanya adalah, meski kita sekarang terpuruk secara ekobomi, namun hal itu adalah buah dari kebijakan terdahulu yang fokus pada pembabgunan ekonomi. Tapi abai dalam memberdayakan sektor pertanian, industri,IPTEK dan Pertahan secara terpadu.

Akibatnya, pembangunan berorientasi ekonomi, melahirkan materialisme. Apa apa diukur uang. Kemajuan ukurannya material. Ironisnya kemudian, mengatasi keterpurukan dengan semata bertumpu pada ekonomi, akhirnya sekarang kita malah terpuruk lagi secara ekonomi.

Dengan demikian solusi untuk bangkit dari keterpurukan saat ini adalah strategi kebudayaan. Sehingga selaras antara strategi dan karakteristik khas geografis masing masing daerah. Selaras antara ekonomi, geografi dan strategi.

Di sinilah geopolitik amat diperlukan sebagai elemen perekat. Sehingga strategi pemberdayaan empat sektor vital tadi, berarti juga pemberdayaan kebudayaan dan kearifan lokal masing masing daerah. Jadi bangsa kita maju bersumber dari jatidirinya. Bukan menurut kepribadian bangsa lain.

Untuk menyusun strategi kebudayaan berbasis geopolitik dengan memberdayakan empat sektor vital bangsa, maka kita meyakini mampu membebaskan diri dari belenggu pengetahuan umum. Sehingga mampu menjawab tantangan baru melalui cara pandang baru dan kesadaran baeu.

Kesadaran baru yang pada gilirannya akan menjelma jadi harapan baru, kiranya akan jadi inspirasi untuk menyingkirkan reruntuhan pintu keluar goa. Dengan demikian putra putri terbaik bangsa manpu keluar dari goa. Muncul secara alami di pentas nasional dan daerah. Sesuai bakat khusus dan keahlian masing masing.The best and the brightest.

Untuk membersihkan dan menyingkirkan reruntuhan dari pintu keluar goa, maka seluruh sumberdaya intelektual bangsa, harus jadi pelaku aktif. Jangan cuma penonton pasif.

Ibarat sebuah ungkapan: Lebih baik menyalakan lilin, daripada berkeluh kesah ihwal kegelapan. – Hendrajit

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.