Home Islam POROS BAITULLAH

POROS BAITULLAH

0
M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Jamaah haji Indonesia telah menyelesaikan rangkaian ibadahnya. Sebagian pulang ke tanah air, sebagian lagi berziarah dulu ke Madinah karena berangkat gelombang kedua. Thawaf, sa’i, wukuf, jumroh serta ifadhah selesai dilaksanakan. Keluarga telah menunggu. Do’a dan harapan yang dimohon adalah haji mabrur. Haji yang sukses dalam pandangan Allah. Menjadi orang baik dan banyak berbuat baik serta bermakna bagi lingkungan. Segala pengorbanan waktu, fisik, materi, atau lainnya lnsya Allah berbalas ampunan dosa, dekat dengan Allah, serta bermukim di Surga kelak.

Baitullah adalah sentral peribadahan. Inilah rumah tertua yang dibangun manusia untuk beribadah kepada Allah. Shalat menghadap padanya dan haji mendatanginya. Manusia dari berbagai penjuru dunia memenuhi panggilan iman bergerak ke tempat yang dimulyakan ini. Memenuhi syari’at menjauhi maksiat. Pusat magnet kebahagiaan ada di sini “wa man dakholahu kaa na aaminan” (Barangsiapa memasukinya akan aman dan nyaman).

Setelah ditarik ke pusat magnet iman, maka kepulangan adalah penyebaran ketakwaan. Takwa yang berspektrum luas mulai dari aspek pribadi, rumah tangga, budaya, ekonomi, politik maupun pergaulan dunia. Poros Baitullah memberi warna yang bermakna dimana mana. Warna yang ajeg, istiqomah, dan jelas. Poros Baitullah bukan poros Saudi Arabia sebab bisa saja “mamlakah” ini salah. Bukan poros Iran, Amerika, ataupun China. Tidak ada hubungan dengan Negara. Ini adalah poros Allah, poros Islam. Setiap muslim semestinya ber “wijhah” atau berpandangan hidup “Baitullah”. Kebaikan itu bukan “barat” atau “timur” tapi kualitas pelaksanaan aturan yang berlaku di rumah-Nya.

Fenomena di Indonesia konteks poros adalah poros Jakarta-Beijing. Ini fenomena baru tentang keakraban Pemerintah RI dengan Pemerintah RRC. Jembatannya adalah hutang luar negeri dan investasi. RRC adalah negara komunis. Poros Amerika disebut liberalis. Ada lagi paham yang berorientasi lokal dimana keagamaan ditarik oleh magnet setempat. Itu poros nativis. Ada pula poros pemisahan aspek keagamaan dengan kehidupan sosial yang bernama sekularisme. Jika mempersetankan spritual dan akherat lalu semua kesenangan dieksplotasi untuk kekinian, maka itu itu disebut poros hedonis atau pragmatis.

Poros Baitullah adalah poros orang beriman yang berdimensi utuh, kebahagiaan dunia dan akherat. Berjuang untuk tegaknya ideologi keridloan Allah. Da’wah dan Jihad. Tidak terjebak oleh lingkaran setan yang tak bertujuan. Berputar-putar tanpa jalan keluar. Musuh iri dengan gaya hidup iman. Tapi Allah menyuruh biarkan mereka dalam kebingungan. “Dzar hum ya’kuluu wa yatamatta’uu wa yulhihimul amal” (Biarkan mereka hidup makan makan, bersenang senang dan berangan angan).

Karena iri maka pendukung poros kejahilan itu menjadi tak suka, benci, dan ingin menghancurkan “wijhah” mu’min. Menjadi islamophobia atau penghianat agama. Menyerang peradaban. Berusaha dengan segala cara untuk meruntuhkan syari’at. Benci yang berbau Baitullah termasuk kearab araban. Padahal, bahasa Al Qur’an adalah Arab. Begitu juga dengan do’a baku Nabi dan bahasa sholat lima waktu. Pembenci adalah kafirin dan muslim yang berjiwa munafik. Mereka adalah “reinkarnasi” dari Abrahah pembuat makar penghancur Baitullah yang gagal. Abrahah penguasa kristiani dan pasukan gajahnya berantakan seperti “dimakan ulat”.

Poros Baitullah akan mendapat bantuan Allah dan menang dalam waktu dekat.
Nashrun minallah wa fathun qariib. Insya Allah.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

26 Agustus 2019

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.