Home BUDAYA INI KALI KITA HANYA PUNYA YANG HILANG

INI KALI KITA HANYA PUNYA YANG HILANG

0
Acep Iwan Saidi

Mencari Indonesia adalah perjalanan kehilangan, aku melangkah di antara dahan-dahan kering, sejarah yang meranggas. Kemarau panjang dan asap yang menjadi kerikil. Orang-orang yang kesepian berlarian ke pusat kota, mencari apapun yang bisa diajak berbicara. Orang-orang yang kehilangan pagi, kehilangan matahari. Anakku mengendap-endap di ujung kakiku yang hitam. Masa depan tersungkur di comberan lintah. “Aku tidak bisa tidur 900 tahun, ayah. Dan kini sudah tidak ada doa, hutan tidak lagi memiliki goa!”, teriaknya dengan sebuah buku yang diusung di ubun-ubun. Ia berlari ke persimpangan: antara kecerdasan dan batu, intelektualitas dan gas air mata. Kepalanya diikat awan yang tidak menjadi hujan.

Aku melangkah dalam kehilangan. Juga bahasa yang gagal menemukan kata-katanya sendiri. Harapan menjadi hutan. Sedangkan kota telah menjadi barakuda, senapan yang tidak berhenti menembakkan kebengisan ke langit peradaban. Kemanusiaan dibunuh tepat ketika Tuhan dipanggil di tikungan. “Jadilah Daud, Nak, jadilah Daud!”, aku tulis pesan itu saat malam dipaksa turun untuk menyelimuti amuk. Tapi, anakku telah menjadi Ismail. Aku hanya bisa menatap Bintang. Aku bukan Ibrahim, aku hanya bisa berdoa agar masih dianugerahi sebuah mimpi: tentang cara menyembelih ketakutan. Hingga subuh habis, aku hanya mendengar suara dengkur bersahutan di dalam komputer. Waktu telah menjadi toko elektronik dan orang-orang telah menjadi telepon genggam yang tersebar membentuk kelompok-kelompok perbincangan.

dan di Wamena sejarah telah dikuburkan. Tidak ada lagi kitab dan kisah.
Kita hanya punya
yang hilang.

Gambir, 28/09/2019

ACEP IWAN SAIDI

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.