Home Bencana THE SIMPANG SIUR

THE SIMPANG SIUR

0

by M Rizal Fadillah

Jika dalam film The Santri terjadi kontroversi soal benarkah ajaran toleransi dalam Islam seperti itu, maka dari kejadian penusukan seorang menteri “mbah” politik hukum dan keamanan timbul kontroversi begitukah tayangan intoleransi dan radikal ? Lalu muncul beragam berita yang tidak sama sehingga jadilah seperti thriler film “The Simpang Siur”.

Ada berita Wiranto dan Kapolsek ditusuk. Ada berita bahwa Wiranto tidak apa apa, yang luka hanya Kapolsek. Adapula yang menyebut Wiranto terluka tapi tidak berdarah. Ada lagi sudah diperban di dalam mobil. Perban sebelum kejadian. Konon dioperasi di rumah sakit. Ada yang memberitakan operasi cukup lama sampai 3 jam. Dijenguk Jokowi lalu mendeklarasikan perang lawan radikalisme. Penusuknya suami istri pasangan medan dan Brebes. Suami “cingkrang” menusuk lalu peran istri ” bercadar” apa ?

Beredar foto suami istri itu berendengan dengan polisi sebelum menusuk. Ngobrolkah mereka. Yang jelas kata pak Polisi di Betawi “cingkrang” dan “cadar” ini terpapar Isis. Ada berita JAD Cirebon ada lagi berita lain JAD Bekasi. Di medsos keluar viva.id bahwa Wiranto “akan” ditusuk di Banten. Hebatnya BIN telah memantau gerak si “terpapar Isis” itu sejak 3 bulan yang lalu. Awam berspekulasi jangan jangan “binaan”. Adalagi informasi penusukan ini berhubungan dengan pelantikan nanti. Semua menjadi simpang siur.

Sulit untuk mengklarifikasi. Humas manapun yang menyampaikan rakyat tetap bingung. Ada rasa tak percaya. Akhirnya rakyat menafsirkan sendiri sendiri berbarengan dengan isu yang sedikit sedikit “menguap”. Wiranto berjaya, berkarya, atau semakin tak berdaya. Dulu sewaktu 21-22 Mei Wiranto dumumkan oleh pak Polisi menjadi target yang akan “ditembak”. Kini Wiranto jadi target yang “ditusuk”. Memang pak Wiranto seperti spesialis sumber berita “hot news”.

Dengan semangat pak Jokowi teriak “perang lawan radikalisme”. Masyarakat masih melamun isu radikalisme atau gerakan komunisme yang lebih berbahaya. Domein politik atau hukum. Dominan strategi atau perlindungan masyarakat. Mengapa umat Islam yang selalu dicitrakan radikal dan intoleran sehingga sakit perasaan umat digambarkan dengan “cingrang” dan “cadar”. Sehingga juga dengan terpaksa “merendah” harus memberi tumpeng di gereja atau ikut membawa salib. Menteri pun sibuk teriak teriak “hai para rektor, waspada kampusmu terpapar radikalisme”. Semua dibuat gemetar oleh bayangan hitam kelam.

Film “The Simpang Siur” masih tayang di bioskop kesayangan sampai 20 Oktober. Setelah itu akan diproduk film “the the” lain yang lebih seru. Ada horor ada humor. Ada juga ceritra yang berbau “kolor” atau anggota dewan “molor”. Tidak jauh jauh sekitar itu kok, disainer atau sutradaranya itu itu juga. Memang tidak perlu luas, karena dunia “istana boneka” hanya selebar daun “kelor”.

Pak Wiranto, sebagai muslim yang melihat ada yang tertimpa mushibah tentu kami mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun”.
Moga cepat sembuh. Moga banyak beramal sholeh ke depan. Semakin tua semakin dekat ajal. Mari persiapkan bekal.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 11 Oktober 2019

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.