Home DUNIA IRAN BUKAN NEGARA SAHABAT

IRAN BUKAN NEGARA SAHABAT

0
M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Sebagaimana negara China yang mengembangkan ideologi Komunis, maka Iran adalah negara yang bermisi menanamkan ideologi Syi’ah dimana dan kapanpun. Kedua negara ini berkomitmen untuk melindungi penganut ideologi Komunis dan Syi’ah siapapun. Karenanya negara negara yang berangkulan dengan keduanya rawan terpapar kedua faham atau ideologi radikal tersebut.

Iran ditakdirkan merajalela di timur tengah. Bahkan disadari atau tidak menjadi kekuatan hegemonik. Tidak ada kesetaraan yang ada adalah dominasi. Di negara Yaman Iran bahkan menjadi tempat bergantungnya Syi’ah Houti. Di Afghanistan Syi’ah Iran merambah. Suriah rezim Bashar Assad tidak mungkin bertahan tanpa dukungan dan bantuan negara Iran. Yang kini nyata adalah Irak. Bagaimana Iran begitu berpengaruh dan mengendalikan rezim penguasa Irak pimpinan Barham Salih dan Adel Abdul Mahdi.

Dimana ada Syi’ah disitu ada Iran. Selalu berfriksi bahkan berkonflik dengan Suni. Irak menunjukkan bukti gesekan tersebut. Kehadiran AS disini tak dapat dipisahlan dari keberadaan Iran. Demo anti Pemerintah mendapat perlawanan demo tandingan dari warga Syi’ah Irak yang jelas didukung Iran. Iran mulai menyusup ke Asia Tenggara dan Indonesia adalah negara yang terbuka bagi pengembangan Syi’ah. IJABI dan ABI adalah dua organisasi Syi’ah yang diback up penuh Iran.

Iran tentu berusaha sangat berbaik baik dengan Pemerintah Indonesia. Tawarannya soal investasi atau kerjasama pendidikan. Kepentingan besarnya ya itu pengembangan faham Syi’ah. Jika Pemerintah tidak waspada maka ini akan jadi bom waktu untuk meledakkan konflik horizontal Sunni-Syi’ah. Iran seperti biasa akan menjadi pengendali. Semua negara Islam dimana Iran berpelukan erat menjadi kacau berantakan.

Konflik AS-Iran saat ini berhubungan dengan adu pengaruh di dunia Islam. Timur Tengah menjadi ajang perseteruan. Iran memusuhi Arab Saudi, Uni Emirat, Kuwait, Bahrain karena akses pengembangan Syi’ah yang tersendat di negara tersebut. Amerika sudah dipastikan akan dijadikan gantungan. Sementara Iran biasa bersekutu dengan negara komunis China dan Rusia. Suriah adalah contoh pergolakan lokal yang bergeser menjadi global. Eksesnya luar biasa hancur hancuran. Hantu ISIS hanya sebagai mainan saja bukan asli perjuangan.

Terbunuhnya Jenderal andalan Iran Qasem Solaemani di Bandara Baghdad Irak dan berbalas serangan rudal Iran ke pangkalan AS Al Ayn Al Assad Irak Barat tidak akan menyebabkan perang Iran-AS. Hal ini logis karena target masing masingnya bukan peperangan. Justru proksi untuk penguatan pengaruh di luar negara Iran. Irak di antaranya.
Ada insiden “perang” bodoh tapi menyedihkan yaitu tertembak jatuhnya pesawat Ukraina Airlines oleh rudal Iran. 176 penumpang sipil tewas. Hassan Rouhani sendiri menyatakan human error ini sebagai “kesalahan tak termaafkan”.

Israel sepertinya menjadi musuh Iran demikian juga sebaliknya. Akan tetapi sebenarnya keduanya saling membutuhkan. Keberadaan Israel adalah isu penting untuk menguatkan posisi Iran dalam menancapkan pengaruh dunia Islam. Sementara Iran dengan moncong dan taringnya menjadi isu penting bagi Israel, dan juga Amerika, untuk mencari sahabat di dunia Islam. Bahasanya kerjasama strategis menghadapi ancaman Iran.

Kerjasama persahabatan dengan Iran sama dengan persahabatan dengan RRC dimana dua duanya memiliki kepentingan ideologis. Komunis dan Syi’ah Imamiyah. Memiliki daya tarik dan konsekuensi campur tangan global dalam memanfaatkan konflik horizontal.

Nah Indonesia jika salah dalam mengambil kebijakan, akan menjadi medan tempur “gajah lawan gajah, pelanduk mati di tengahnya”.
Perlu diingat Iran adalah bukan negara sahabat. Begitu juga dengan China.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 12 Januari 2020

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.