Home Kolom Ibukota Imajiner

Ibukota Imajiner

0

by M Rizal Fadillah

Pindah ibukota ke lahan kosong yang leluasa untuk membangun dengan tata kota yang apik.
Sekejap saja terbangunlah pusat pemerintahan dengan istana yang megah, ruang tamu yang mewah, kolam bekas tambang yang berubah. Hutan rindang rumput hijau yang membuat nyaman mata memandang. Udara segar.

Tak perlu studi banding. Cukup cari di android ketemulah model ibukota Australia Canberra yang terlihat indah dari bukit Mount Ainlies. Pijit “impor ibukota” maka pindahlah ibukota sebagaimana Nabi Sulaeman memindahkan kerajaan Ratu Bilqis. Penajam menjadi kota bersinar yang tak pernah tidur karena suasana yang hidup dan ramai.
Ibukota paling bagus di Asia.

Untuk keperluan sehari hari tidak usah menanam atau berternak. Impor saja karena dunia itu kecil. Soal bayar mudah karena paket hutang bersatu dengan investasi. Kalau hutang menumpuk tidak apa apa juga karena yang bayar sambung menyambung dari generasi ke generasi. Peminjam pun sudah tak berkuasa lagi. Lepas tanggungjawab.
Berteriak teriak sendiri sambil berlari lari “Merdeka..merdeka !”.

Rakyat sejahtera dengan kesehatan yang terjamin dan tenaga kerja terasuransikan. Satu pintu saja, tak butuh Taspen, Asabri, atau seratus asuransi lain, cukup BPJS ketenagakerjaan. Dipotongkah uang pensiun ? bukan potongan, itu sedekah untuk kebahagiaan masa depan.

Dilengkapi kartu kartu yang menyenangkan seperti pra kerja, indonesia pintar, dan sembako murah. Luar biasa sakti kartu itu. Memang bersyukur bangsa memiliki pemimpin yang baik hati dan selalu hadir “sendiri” di tengah bencana.

Aturan yang banyak telah dipangkas habis oleh alat cukur omnibus law. PP bisa mengalahkan UU. Yang penting kerumitan aturan bisa digerus walau negara menjadi anomali demi investasi dan hutang luar negeri.
Agar tenang bilang saja pada rakyat ini adalah upaya mulia untuk menciptakan lapangan kerja.

Indonesia maju dan sejahtera, investasi China memberi makna. Tak perlu khawatir meski terpapar wabah virus corona. China kuat untuk mengatasi dan banyak dana. Cukup tunjukkan sikap simpati saja. Pertumbuhan ekonomi stagnan 5 % sudah kita syukuri. Yang penting di atas 0 % dan rakyat tidak kufur nikmat.

Soal keberadaan pengawal pantai dan nelayan di laut kepulauan Natuna itu wajar pula. Toh mereka hanya mengejar ikan ikan berkewargaan negara China yang lari ke perairan ZEE kita.
Kata pak Menhan, kepada negara sahabat mesti bersahabat.
Bersyukur memiliki Menhan yang bahagia bekerja sama dengan Presiden. Mendukung putera dan menantu Pak Presiden menjadi Kepala Daerah. Baik sekali.

Menaikkan harga BBM, gas, listrik, atau tarif BPJS adalah sengaja untuk memberi kesempatan rakyat beramal shalih dan berkorban demi nusa dan bangsa.
Presiden sambil tidur saja sudah menyejahterakan rakyat apalagi jika “kerja kerja kerja”.

“Pak..pak bangun..Itu ada banjir, longsor, rumah tenggelam”.
Sambil mengigau ia berucap “Ah itu bukan urusan saya, itu tugas Menteri ” lalu melanjutkan tidurnya.

Ibukota pun lalu tenggelam dalam mimpi.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 18 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.