Home Bencana PUISI YESUS ANAK MUSLIM

PUISI YESUS ANAK MUSLIM

0
M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Puisi karya tokoh “Islam Liberal” Ulil Abshar Abdalla berjudul “Jum’at Agung” yang dibacakan oleh anak anak berkopiyah dan berkerudung telah menggegerkan. Awalnya dikira “Jum’at Agung” adalah “Sayyidul Ayyam” milik umat Islam karena hari agungnya umat Islam adalah hari Jum’at. Ternyata bukan, itu kisah penyaliban Yesus di bukit Golgota 3 hari sebelum Paskah.

Prof. DR. H. Rochmat Wahab Guru Besar UIN Yogyakarta, mantan Ketua PW NU DIY menyatakan keprihatinan atas liberalisasi di lingkungan santri. Baginya hal ini menyangkut akidah yang dirusak.
Salah satu penggalan isi puisi itu adalah :

“Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku. Ia telah menebusku dari iman, yang jumawa dan tinggi hati. Ia membuatku cinta pada yang dinista”.

Ketika dibacakan oleh anak muslim apalagi jika dihayati dan diyakini maka hal ini bisa berbahaya bagi keimanannya. Ada kesadaran tentang keyakinan yang disalib adalah “yesusmu juga yesusku”. Padahal bagi seorang muslim harus diyakini bahwa Nabi Isa itu tidak dibunuh dan tidak disalib, akan tetapi yang diserupakan (QS An Nisa 157).

Inilah model puisi salah kaprah. Berangkat dari toleransi “campur aduk”. Tapi sebenarnya tak terlalu aneh karena ditulis oleh Ulil tokoh Islam Liberal. Yang aneh adalah bahwa puisi itu dibacakan secara ekspresif oleh anak anak santri.
Simbolisasinya kopeyah dan kerudung.

Mungkin argumen Ulil bahwa ini hanya simpati dan “pembelaan” pada yang menderita. Akan tetapi hal ini sulit juga untuk dapat diterima karena yang disalib menurut keyakinan Islam itu bukan Nabi Isa. Jika konteksnya simpati dan pembelaan, apa bedanya dengan kasus Pengacara Kenya yang menggugat Israel dan Italia ke Mahkamah Internasional di Den Haag ? Dasarnya simpati dan pembelaan atas kejahatan penyaliban.

Pengacara Kenya Dola Indides untuk ketiga kalinya mengajukan gugatan pada bulan Maret tahun ini setelah ditolak oleh Mahkamah Internasional pada tahun 2007 dan tahun 2013. Di samping Israel dan Italia Dola juga menuntut Kaisar Tiberius, Pontius Pilatus, Raja Herodes dan pemuka Yahudi yang semuanya telah meninggal lebih dari 2000 tahun.

Tujuan gugatan itu menurut Dola adalah untuk “mengembalikan martabat yesus dan mencari keadilan”. Yesus telah dihinakan diludahi, ditampar, dipukul, diejek serta dibunuh. “Saya menuntut sebagai teman” katanya.

Nah puisi Ulil “Jum’at Agung” yang dibacakan oleh anak anak santri mungkin berfilosofi bahwa “semua agama itu benar” sehingga tak ada salahnya bersimpati. “Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu mereka adalah guru guruku”. Justru disinilah salahnya. Tak mungkin semua agama benar sebab jika demikian maka lebih baik Ulil pindah agama saja agar bisa “full sympathy” pada penyaliban.

Tentu tidak akan menyebabkan anak anak santri tertipu untuk baca puisi yang bikin murtad itu karena pembuatnya jelas bukan muslim. Mereka pasti enggan membacakannya.
Ataukah mungkin Ulil dan “santri” itu sedang menipu umat ?

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Bandung, 16 April 2020
.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.