Home BUDAYA Tassawuf dan Filsafat

Tassawuf dan Filsafat

0

Ini kisah di abad 12 Masehi. Kalender masih dihiasi Hijriah. Dunia berkisah tentang Islam sebagai mercusuar dunia. Andalusia dan Abbasiyah masih terang benderang. Bak dunia barat kini. Pengetahuan dipenuhi sumber-sumber Islam. Cordoba di Spanyol kini, menjadi pusat pembelajaran ilmu. Sains meledak menjadi sumber rujukan. Tapi di belantara arab, Islam penuh dialektika kesufian.

Tassawuf melambung kencang. Perdebatan sengit berlangsung. Dua arus pemikiran besar beradu kencang. Antara tassawuf dan cara berpikir logika. Filsafat. Keduanya berada dalam tubuh Islam. Tapi filsafat disini, masih yang dikembangkan muslimin. Dikenal filsafat Islam. Dari situlah memunculkan mu’tazilah. Kelompok ini besar jasanya mengislamkan kaum penyembah rasio lainnya. Hingga kemudian menjejak kencang di Andalusia. Di sanalah filosof-filosof Islam melegenda. Mu’tazilah menjadikan akal sebagai pondasi memahami Islam. Tapi mereka tak keluar dari jalur. Sementara tassawuf, berupaya melerainya.

Pertarungan keilmuan berada pada puncaknya, dalam belantara Islam. Tapi ingat, masa itu, syariat Islam tetap berlaku teguh.
Mencuatlah Imam Ghazali, yang sebelumnya filosof, berubah menjadi sufi. Kitabnya, “Tahafut al Falasifah” menyerang cara berpikir kaum filsafat. Perdebatan tentang kosmosentris dan bagaimana peran Tuhan dalam kehidupan. Dalam bagian ketiga kitabnya, Ghazali menyerang cara berpikir filosof soal keberadaan Tuhan terhadap alam.

Tentang apakah dunia merupakan hasil perbuatan Tuhan atau ciptaan Tuhan. Di dunia, Tuhan apakah sebagai pencipta (shani’) atau sebagai pelaku (fa’il). Karena menurut filosof, Tuhan dianggap bukan zat yang berkehendak. Ghazali menyanggah pandangan filosof. Alam dianggap azali. Peristiwa di dunia, dianggap sebagai perbuatan baru (ihdats). Ghazali menyanggah, antara keterciptaan (huduts) dan perbuatan yang baru (hadits) tak bisa dipisah. Dia mengasumsikan pada jari yang bergerak. Gerakan jari bukan dianggap sebagai hadits. Karena jari tak memiliki perbuatan. Melainkan satu kesatuan dengan penggerak. Jadi perbuatan di alam ini tak bisa dipisah dari kehendak Sang Khalik.

Sementara Ibnu Rusyd, membalas dalam Tahut at Tahafut. Dia menjawab, jika benar Allah lebih dahulu, seperti lebih dahulunya tubuh seorang daripada bayangannya, presmis tersebut menunjukkan bahwa Allah qadim dan kosmos juga qadim.

Apabila Allah lebih dahulu dari kosmos dalam masa, wajiblah Dia mendahului dalam suatu masa yang tak memiliki batas awal. Maka, masa itu pun tergolong qadim. Sebab, jika sebelum masa ada masa lain, tak terbayang huduts-Nya. Jika masa juga tergolong qadim, maka gerakan juga tergolong qadim. Karena masa selalu terkait dengan gerak. Alhasil jika gerak tergolong qadim, maka sesuatu yang bergerak pun tergolong qadim. Otomatis si penggerak pun tergolong qadim.

Ini hanya secupak dialtektia besar itu. Tapi dialektika besar tassawuf dan filsafat itu membuat kaum eropa berguru. Mereka terkesima dengan kemajuan dialektika dalam belantara Islam. Eropa, masih disebut masa kegelapan. Karena di sana, cara berpikir filsafat dilarang. Gereja menganggapnya bid’ah. Hingga mencuatlah Thomas Aquinas, yang berguru ke Cordoba. Dia sebagai teolog Nasrani, mengambil ilmu filsafat dari sana. Tapi terkhusus pada soal filsafat semata.

Rasio. dari filosof muslim itulah mereka menemukan kembali corrupting the youth yang digunakan Socrates, Plato dan Aristoteles. Karena kaum mu’tazilah banyak mengenakannya. Terjadilah transformasi besar filsafat ke dunia eropa Barat. Hanya ironi terjadi. Filsafat cenderung berlaku liar tak terkendali. Dari Aquinas kemudian merambah pada Grotius, yang menentang doktrin Gereja. Muncul pula Francis Bacon yang banyak mengadopsi filsafat mu’tazilah sebelumnya.

Tapi Bacon berlebihan. Karena dia menganggap Tuhan tak hadir dalam kehidupan dunia. Tuhan bak pembuat jam semata. Segala perbuatan di dunia, bukanlah atas kehendak Tuhan. Dia berpandangan dengan teorinya, “Aku Berpikir maka Aku Ada.” Inilah yang dikenal teori induktif.

Dari Bacon muncul lagi Rene Descartes. Dengan membalik teori Bacon. Dia memunculkan pandangan “Aku Ada maka Aku Berpikir” (Being Thinking). Ini hanya membolak-balik teori filsafat sebelumnya. Tapi Tuhan perlahan makin ditinggalkan sebagai Penyebab. Bacon dan Descartes menganggap dunia hanya bisa sahih dengan adanya serapan inderawi manusia. Logika menjadi pondasi utama. Hingga memunculkan Immanuel Kant dengan teori ‘ratio scripta’-nya. Semua baru dianggap benar jika telah terbukti secara empiris. Alhasil kebenaran ala Wahyu, makin terpinggirkan. Dan ironisnya tak banyak ulama Nasrani yang mampu membendung cara berpikir ini, laiknya Imam Ghazali.

Alhasil filsafat berkembang liar di eropa, bahkan melampaui yang diteorikan Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Farabi dan lainnya. “Karena tanpa batasan-batasan, yang ditempatkan atas dasar Wahyu,” tulis Shaykh Umar Vadillo, ulama besar dari Spanyol kini.

Filsafat pun hinggap di Eropa sebagai cara berpikir baru, yang mendobrak otoritas Nasrani. Gereja tak mampu membendungnya, karena sibuk dengan perang aqidah Trinitas dan Unitarian. Makin menambah ghirah kaum Eropa menemukan entitas baru dalam pola pikir, yang berujung pada rasio. Dari situlah memunculkan sains modern, politik dan hukum baru. Inilah anak kandung filsafat, yang lahir dari barat.

Inilah yang melahirkan pemikiran materialisme. Yang berujung pada nihilisme. Ditambah semangat kaum eropa abad pertengahan, tentang pencarian emas sebagai harta kekayaan –yang tentu terperangah dengan paham materialisme tadi–. Dari dialektika soal kosmosentris, merambah pada soal kekuasaan. Maka berujunglah pada teori ulang bahwa Raja bukanlah wakil Tuhan (Vox Rei Vox Dei). Melainkan kekuasaan harus didefenisikan ulang.

Magna Charta, dan Bill of Right menjadi pondasi tentang akar kekuasaan Raja dan Tuhan tadi. Karena masa itu Raja dan Gereja merupakan duet penguasa di Eropa. Machiavelli, Montesquei, Bodin sampai Rosseou, menteorikan lagi tentang kekuasaan. Rosseou menjadi ujungnya dengan mengatakan bahwa kedaulatan itu berasal dari kontrak yang diberikan dari rakyat. Bukan dari Tuhan.

Sementara Locke masih berkata, raja memegang kontrak dari Tuhan dan dari Rakyat. Rosseou membalik teori itu semua, yang diminati kaum borjuis dan hedonis kala itu. Muncullah peristiwa puncak Revolusi Perancis, 1789, yang mengeksekusi teori Rosseou, konstitusi. Inilah produk filsafat yang berwujud. Ditambah teori Austin dan Hans Kelsen yang makin melengkapi. Entitas baru pun lahir menggantikan kerajaan. Itu yang disebut ‘state’, yang bermula dari Il Principe-nya Machiavelli, yang mendefenisikan ulang tentang entitas baru politeia.

Dari sini tampak filsafat telah berkembang liar, hingga mencampakkan kedaulatan Tuhan. Karena Tuhan telah berhenti sebagai pembuat jam. Setelah jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Maka, urusan hukum, kekuasaan sampai ekonomi, semuanya mengenakan logika yang harus diatur oleh manusia. Bukan lagi merujuk kitab suci. Jadilah, state, konstitusi dan banking sistem sebagai anak kandung filsafat. Yang didampingi sains modern. Era itu yang disebut modernisme.
Dari sini, kebenaran ala Wahtu terpinggirkan. Hingga datang teori-teori baru dari pemikir rasionalis sebelumnya. Muncullah Martin Heideger, yang berkata keterbatasan rasio sebagai pondasi. Heideger mengatakan, rasio bisa dibuat memadai dan tidak memadai. Hingga tak layak dijadikan pijakan kebenaran.

Kemudian Ernst Junger dalam bukunya Voldunger mengupas habis sifat manusia modern yang berwatak nihilisme. Sampai pada Carl Smith yang menihilkan teori filsafat dengan filsafat.
Kondisi inilah problematikan manusia modern. Karena terputus dari Wahyu, sebab cara berpikir rasio mendominasi. Hingga tak mampu lagi membaca peristiwa alam, yang kesemuanya terjebak pada rasionalitas. Imbasnya pada dunia muslim kini, yang sibuk merasionalisasi Islam, tapi tetap ketinggalan dengan barat (baca: kuffar).

Karena filsafat Islam, tak bisa menjadi jalan kembali pada kejayaan. Melainkan kembali pada tassawuf, seperti yang Ghazali maksudkan. Sebab, rasio telah menjadi tuhan baru, untuk memikirkan segalanya kini. Inilah yang dikhawatirkan Ghazali dalam Tahafut al Tahafut itu. Karena dengan melebar liarnya filsafat, telah merusak Tauhid. Tentang eksistensialisme, kehadiran Alllah Subhanahuwataala dalam setiap peristiwa.

Dan masa puncak rasionalitas yang tengah menurun inilah, di jantung bumi Eropa kini, mencuat Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar yang mengajarkan umat untuk kembali pada tassawuf. Kembali merujuk pada Islam Sahihan, yang merujuk tiga generasi awal (Salafush Shalih atau Amal Madinah). Pondasi tassawuf, menjadi titik kunci kembali pada Islam. Karena Tauhid, diperlukan untuk memahami segala peristiwa yang berlangsung di dunia ini. Murid-muridnya, yang bertebaran di seluruh Eropa dan barat, mendengungkan lagi tassawuf sebagai antitesa dari keliaran filsafat kini. Kembali pada eksistensialisme, yang telah dirusak pemahaman esensialisme. Maka, bukan esensi Islam yang diperlukan. Melainkan Islam yang utuh yang dihadirkan kembali. Islam tak perlu dimodernisasi mengikuti cara berpikir rasio. melainkan Islam itulah wujud untuk mendudukkan rasio pada tempatnya. Hingga Wahyu menjadi pondasi utama.

Irawan Shiddiq, Penulis buku “Kembalinya Hukum Islam dan Matinya Positive Law, 2018, Alumni USU, Pengacara. Wasekjen DPP KAI.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.