Home BUMN KONTRIBUTOR PLAYBOY

KONTRIBUTOR PLAYBOY

0
M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Revolusi mental memang membuat moral terpelanting. Kecurigaan bahwa revolusi mental itu berbau materialisme bahkan komunisme menemukan bukti bukti. Reputasi moral tidak menjadi pertimbangan untuk jabatan publik. DN Aidit dahulu mengangkat isu revolusi mental untuk menjauhkan masyarakat dari nilai nilai moral dan agama.

Sebenarnya revolusi mental digunakan awal oleh pendiri Partai Komunis Cina Chen Duxiu beserta rekannya Li Dhazao untuk mencuci otak kaum buruh dan petani agar melawan Kaisar. Ironinya revolusi mental ini kemudiannya justru digunakan untuk menghancurkan nilai-nilai moral. Dikenal dalam doktrin komunis “menghalalkan segala cara”.

Di tengah isu materialisme dan komunisme bahkan PKI bangkit, khususnya saat pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila yang berbau komunis ini, Pemerintah melalui Dewan Pengawas mengangkat Direktur TVRI yang berstatus mantan Kontributor Majalah Playboy yang bernama Iman Brotoseno menggantikan Helmy Yahya yang telah diberhentikan di masa jabatannya.
Sontak pengangkatannya menimbulkan reaksi publik.

Meski Iman orang dekat Presiden bahkan dikenal sebagai buzzer militan, namun TVRI sebagai lembaga penyiaran negara perlu orang yang “bersih moral” bereputasi baik. Fikiran sempitnya pernah mengemuka dalam membela Jokowi. Katanya, bagi yang nyinyiran Jokowi untuk mudik tidak menggunakan Jalan tol “Jalan Daendels saja”. Dianggapnya jalan tol itu milik pribadi dan kehebatan Jokowi sehingga menurut Iman, tidak layak digunakan oleh pengeritik Jokowi. Luar biasa sempit.

Setelah mengangkat Kepala BPIP yang menyatakan musuh Pancasila adalah agama, maka mengangkat Direktur TVRI yang mantan kontributor Majalah Playboy adalah kontroversial. Pemerintahan tidak peka terhadap nilai nilai relijiusitas masyarakat. Konon rekomendasi DPR juga diabaikan. Ya itulah jangan jangan hal ini menjadi bagian implementasi dari revolusi mental yang substansinya menyingkirkan nilai nilai moral.

TVRI yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat di era teknologi digital mengalami kekisruhan sejak diberhentikan Dirut Helmy Yahya. Pengangkatan Dirut baru Iman Brotoseno justru membuat kotroversi baru. Sayang TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik seharusnya membangun kepercayaan baru di kalangan masyarakat. Bukan menjadi bagian dari permainan dan kepentingan politik yang justru mengabaikan nilai nilai kepercayaan tersebut.

Repot jika semua lembaga yang berbasis Pemerintah dijadikan ajang perpolitikan pragmatis, transaksional, dan kehilangan nilai-nilai independensinya. Apalagi hanya menjadi tempat alokasi atau sarana bagi bagi kue kekuasaan semata. Hal demikian dapat saja menjadi tanda dari semakin dekatnya kekeruntuhan.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan.

Bandung, 30 Mei 2020

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.