Home Nasional Daerah PAKAIAN ADAT PENCITRAAN

PAKAIAN ADAT PENCITRAAN

0
Rizal Fadillah/prs

by M Rizal Fadillah

Presiden Jokowi biasa menggunakan pakaian adat bukan pada acara biasa, akan tetapi juga pada acara resmi. Pada tanggal 14 Agustus lalu menggunakan pakaian adat Sabu NTT saat berpidato dalam acara resmi Sidang Tahunan MPR. Presiden lupa 14 Agustus adalah Hari Pramuka, jika mau mestinya memakai pakaian Pramuka.

Begitu juga pada tanggal 17 Agustus 2020 saat menjadi inspektur upacara HUT RI ke-75 di Istana Merdeka dengan memakai pakaian adat Timor Tengah Selatan NTT.

Jualan citra adalah kebiasaannya. Entah siapa disainer pencitraannya tersebut. Yang jelas “mengadat-adatkan” diri demikian belum tentu memunculkan sikap respek publik apalagi kekaguman. Sebaliknya nada sinis banyak terdengar khususnya di media sosial. Bukan tidak bagusnya pakaian adat, akan tetapi penggunaannya yang tidak “nempat” dan mengada-ada, seperti karnaval anak-anak saja.

Ironinya sehari setelah penggunaan pakaian adat tersebut, masyarakat adat Basipae Timor Tengah Selatan mengalami nasib naas. Mereka mengalami intimidasi dan pemaksaan pengosongan lahan oleh Satpol PP, TNI, dan pasukan Brimob Polri. Rumah darurat yang dipakai masyarakat adat diobrak-abrik dan dirusak. Ibu-ibupun teriak histeris terzalimi oleh Pemerintahan yang Presidennya memakai pakaian adat daerahnya.

Pakaian adat biasanya dipakai pada saat upacara adat atau festival-festival kebudayaan. Jarang digunakan saat acara resmi apalagi saat menyampaikan pidato kenegaraan atau menjadi inspektur upacara. Jika ingin menunjukkan kecintaan pada adat dan budaya yang ada di negara Indonesia ada tempat dan waktunya.
Bila sembarangan maka yang baik pun akan terihat buruk.

Jangan marah jika ada yang menilai sebagai orang yang “tak tahu adat” atau “ada kelainan” atau “badut kampung” atau mungkin lainnya atas perilaku tak lazim itu. Bukan berniat mengejek pakaian adat, tapi tidak terbayang jika dalam acara Hari TNI nanti, Presiden menjadi Inspektur Upacara menggunakan pakaian adat ber “koteka”. Tentu memalukan. Masalahnya bukan pada pakaian adatnya, tetapi waktu dan tempatnya itu yang tak pas.

Mendidik dan memberi teladan bukan seperti sekarang yang dilakukan Presiden Jokowi. Kemarin saja ketika berpakaian adat Sabu Raijua yang disiapkan istri Gubernur NTT Laiskodat, netizen membandingkan dengan pakaian tentara Mongol. Sentimen berbau Cina di kalangan publik sedang meningkat akibat masuknya banyak TKA Cina dan eratnya hubungan Pemerintahan Jokowi dengan Pemerintah RRC.

Baiknya Jokowi segera menghentikan budaya politik pencitraan. Ubah menjadi budaya kerja nyata yang lebih dirasakan manfaatnya bagi rakyat. Rakyat sudah semakin bosan dengan tipu tipu palsu. Harus ada gerakan pemberantasan kultur munafik pada diri para pejabat publik. Nah Presiden yang harus memulai. Bisakah ?

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan.

Bandung, 20 Agustus 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.