Home Nasional Hukum “APARAT SILUMAN” BUNUH PENGAWAL HRS?

“APARAT SILUMAN” BUNUH PENGAWAL HRS?

0
Tarmidzi Yusuf/ist

by Tarmidzi Yusuf
Pengamat Politik dan Sosial

Sebanyak 6 orang Laskar FPI pengawal HRS meninggal, senin (7/12) dini hari kemarin.

Insiden tersebut mengundang reaksi. Kecaman datang dari berbagai kalangan. Nyawa HRS dalam ancaman.

HRS dikejar-kejar untuk dibunuh. Ancaman pembunuhan fisik dan pembunuhan karakter. Padahal, HRS bukan musuh negara. Bukan pula musuh Pancasila. Ada apa?

Sementara aparat keamanan terkesan ‘berdiam diri’ menghadapi gerakan separatis OPM, Organisasi Papua Merdeka. Terkesan hanya berani melawan ummat Islam yang sedang terdzalimi. Ummat Islam khususnya HRS menjadi target untuk dihabisi.

Hubungan Pemerintah khususnya Polisi dan HRS makin panas. Pembunuhan keenam pengawal HRS menjadi polemik. Versi FPI berbeda dengan versi Polisi. Tuduhan FPI ‘bersenjata’ diluar logika normal dan sehat. Diduga “aparat siluman” sedang bermain.

Ada beberapa kemungkinan yang harus kita ketahui untuk mengetahui ada apa yang sebenarnya terjadi.

Pertama, HRS sejak pulang dari pengasingannya menjadi ancaman bagi rezim yang berkuasa. Rezim yang diduga ‘dikendalikan’ kelompok politik Trisila dan Ekasila.

Kedua, adanya rivalitas di tubuh Kepolisian, menjelang suksesi Kapolri yang sebentar lagi pensiun. Diduga ada pejabat kepolisian yang bermain api.

Peristiwa penghadangan rombongan HRS dan pembunuhan 6 Laskar FPI menjadi sinyal adanya rivalitas tersebut. Ada pejabat Kepolisian bintang dua dan bintang tiga, bisa juga antar bintang tiga, berebut posisi bintang empat yang bakal ditinggalkan Jenderal (Pol) Idham Aziz.

Bila ada pejabat polisi yang dipecat dalam waktu dekat, akan kelihatan siapa ‘bintang’ yang bermain. Jalan terjal para bintang tersebut, sangat mudah dibaca. Santer terdengar, bintang tiga tersebut banyak diprotes ummat Islam dalam perebutan kursi Trunojoyo satu.

Ketiga, insiden ancaman pembunuhan terhadap HRS dan terbunuhnya 6 Laskar FPI, selain menguntungkan rezim yang sedang berkuasa, juga menguntungkan pejabat polisi yang sedang bertarung merebut Trunojoyo satu. Siapa memanfaatkan siapa.

Bagi HRS, FPI dan ummat Islam, kondisi Indonesia saat ini menjadi ancaman serius. Premanisme berbaju aparat dan hukum makin brutal dan sadis. Tanpa malu mempertontonkan kekejaman dan keserakahan di depan publik.

Indonesiaku menangis menjadi permainan ‘aparat siluman’ berbaju hukum dan bergaya preman.

Bandung, 22 Rabiul Tsani 1442/8 Desember 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.