Home EKONOMI KELISTRIKAN : KONSEP ERA KAPITALIS DITERAPKAN DI NUANSA KOMUNIS.

KELISTRIKAN : KONSEP ERA KAPITALIS DITERAPKAN DI NUANSA KOMUNIS.

0
Ahmad Daryoko Koordinator INVEST./IST

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Adalah fakta bahwa System Ketenagalistrikan yg terjadi saat ini, cikal bakalnya dipersiapkan oleh John Perkins mulai thn 1975 ( The Confession Of An Economic Hitman ) di PLN Bandung. Kemudian dimatangkan oleh group IFIs (International Financial Institutions spt WB,ADB, IMF dll) setelah ditanda tanganinya Letter Of Intent (LOI) pada Oktober 1997.

Konsep IFIs itu disebut “The Power Sector Restructuring Program” (PSRP) yg di launching oleh Departemen Pertambangan dan Energi pada 25 Agustus 1998.

Konsep tsb lahir sbg konsekuensi akumulasi hutang LN pada akhir 1997 ( yg saat itu berjumlah $AS 132 miliar atau Rp 1.400 triliun ) yang isinya PLN Jawa-Bali hrs di privatisasi/dijual ke swasta, dan Luar Jawa-Bali diserahkan ke PEMDA.

PSRP diatas kemudian dijadikan Naskah Akademik UU No 20/2002 maupun UU No 30/2009 ttg Ketenagalistrikan yg dua duanya pasal privatisasinya dibatalkan MK.

Pasca Judicial Review UU No 30/2009 di MK tahun 2010 Dirut PLN Dahlan Iskan melakukan penjualan Ritail PLN seluruh Indonesia serta melanjutkan privatisasi pembangkit yg sebenarnya sdh dilarang oleh Putusan MK No. 001-021-022/PUU-I/2003 tgl 15 Desember 2004.

Itu semua dilakukan D.I krn statement Ketua MK (Mahfud MD) saat Sidang Judicial Review UU No 30/2009 tu bahwa “Unbundling itu boleh asal tidak mengakibatkan Liberalisasi Ketenagalistrikan ” (atau boleh melawan Konstitusi ).

Tetapi mengingat perlawanan internal karyawan PLN (terutama krn adanya putusan MK yang terakhir No. 111/PUU-XIII/2015 tgl 14 Desember 2016 ) , maka sampai 2019 akhir , System kelistrikan masih dalam kondisi “Single Buyer System” dng PLN sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK).

Namun dng adanya Proyek 35.000 MW yang memberikan “angin segar” kpd Kontraktor2 China dan adanya “instruksi” dari Menteri BUMN Erick Tohir yg menyetop operasional pembangkit PLN ( baca Tempo 14 Desember 2019, Channel YouTube kuliah umum MenBUMN di Richcarlton akhir Januari 2020, Jawa Pos 16 Mei 2020), maka mulai awal 2020 khususnya Jawa-Bali dimulai “Multy Buyer and Multy Seller” System dng tarip listrik liberal (mengikuti pasar bebas). Berbeda saat masih “Single Buyer System” dimana tarip masih bisa diatur Negara lewat PLN.

Akibat nya subsidi listrik pada 2020 melejit menjadi Rp 200,8 triliun (Repelita Online 8 Nopember 2020). Karena saat masih dioperasikan oleh PLN rata2 hanya Rp 50 triliun (lihat Laporan Statistik PLN sebelum 2020).

KESIMPULAN :

Ternyata Kapitalis dan Komunis itu kompak. Krn untuk kelistrikan ini konseptornya group Kapitalis (WB,ADB,IMF dll) dalam program “Globalisasi”. Sedang pelaksana nya adalah group Komunis China spt Shen Hua, Huadian, Chinadatang, Chengda, CNEEC, Shinomach dll dng pendanaan dari Bank Of China dalam Program “hegemoni” China bernama OBOR ( One Belt One Road).

Disini terkonfirmasi secara positip theori DR. Athian dan Ustadz Fuad Alhuzaimi ttg keberadaan Komunis dan Kapitalis yg merupakan “tombak bermata kembar” nya Freemasonry Yahudi dng Ideologi “Sekuler” nya !

JAKARTA, 6 APRIL 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.