Home Nasional Daerah SINYAL TIGA PERIODE BERAWAL DARI INDONESIA TIMUR

SINYAL TIGA PERIODE BERAWAL DARI INDONESIA TIMUR

0

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Sinyal tiga periode menguat. Gelagatnya makin terbaca. Sinetron dimulai. Dulu masuk gorong-gorong. Sekarang drama menangis.

Bila tak suka dengan teriakan tiga periode, tentu tidak akan mendapat hadiah. Bisa-bisa dianggap penghinaan dan pelecehan.

Gara-gara teriak tiga periode, seorang pemuda bernama Jackson Boleng dihadiahi jaket oleh Jokowi.

Jackson Boleng berasal dari Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur.

Adegan tersebut terjadi saat Jokowi meninjau lokasi banjir bandang di Kampung Lamanele, Desa Nele Lamadike, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Jum’at kemarin.

Kunjungan Jokowi dan teriakan tiga periode oleh seorang pemuda ditengah-tengah kerumunan massa. Diikuti dengan drama menangis. Sinyal air mata tiga periode?

Lagi-lagi Jokowi mendapatkan perlakuan istimewa, previlege. Kerumunan tak tersentuh hukum sama sekali.

Hukum tebang pilih dan menjadi alat politik. Hanya menyasar orang-orang yang berseberangan secara politik.

HRS, FPI, aktivis KAMI dan orang kritis ditangkap dan diadili. Diframing bagai penjahat besar. Penista agama dan taipan cukong tepuk tangan dan pesta pora.

Masjid protokol kesehatan ketat. Sekolah dan pesantren ditutup. Kegiatan umat Islam dibatasi dengan alasan tidak boleh ada kerumunan.

Lucunya, banyak yang tertipu oleh propaganda covid-19. Sementara penguasa negara bebas dan tidak mengenal protokol kesehatan.

Kerumunan Jokowi dituding beraroma kampanye terselubung tanpa ada protokol kesehatan. Kerumunan tiga periode.

Periode pertama dan kedua saja, banyak publik yang meragukan diperoleh secara jujur dan adil. Apalagi tiga periode. Berpotensi lebih brutal dan banyak petugas pemilu yang meninggal.

Dua kali kunjungan Jokowi ke NTT. Dua kali pula kerumunan massa. Kerumunan Maumere dan kerumunan Ile Boleng.

Kampanye tiga periode bermula dari wilayah Indonesia timur. Basis suaranya Jokowi. Mayoritas Kristen.

Jokowi sedang mengirimkan pesan ke publik. Orang timur ingin tiga periode. Nanti akan ada yang ngancam, “Tiga periode atau lepas dari NKRI”. Agar lebih heroik, dibumbui cap jempol darah. Persis, drama ancaman dicabutnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Bakal ada pula yang berteriak dari kalangan Islam Nusantara. Demi persatuan dan kesatuan, kita dukung Jokowi tiga periode, bahkan seumur hidup. Pasal 7 UUD 1945 hasil amandemen, harus diamandemen lagi. Kembali ke Pasal 7 yang asli.

Penggiringan opini sudah dimulai. Kampanye terselubung dan politik belah bambu diekspos besar-besaran.

Opini tiga periode bebas berkerumun. Stigmatisasi Islam makin terstruktur, sistematis dan masif.

Agama, ideologi dan etnis tertentu diangkat dan disanjung-sanjung. Beberapa jabatan strategis pun telah mereka raih.

Sementara ummat Islam selain dituduh radikal dan teroris, tercerai berai dan bermusuhan. Sibuk sendiri. Akhirnya, terpinggirkan secara politik dan ekonomi. Mirip Singapura dulu.

Belajarlah dari sejarah Singapura dan Tibet bila Indonesia tidak ingin tamat. Sebelum terbit “NKRI” baru model Singapura dan Tibet.

Bandung, 27 Sya’ban 1442/10 April 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.