Home Nasional Hukum Sajadah di Tengah Serpihan KRI Nanggala-402

Sajadah di Tengah Serpihan KRI Nanggala-402

0

Oleh: Abu Muas T. (Pemerhati Masalah Sosial)

Sajadah yang kita ketahui sebagai alat shalat, telah menjadi salah satu alat bukti autentik di tengah serpihan-serpihan kapal selam KRI Nanggala-402 yang diketemukan di seputar tempat kejadian perkara, sehingga dapat segera diputuskan oleh otoritas yang berwenang bahwa kondisi kapal telah tenggelam.

Diketemukannya sajadah yang notabene sebagai alat shalat tempat sujud meletakkan dahi orang yang mengaku beriman dalam penghambaannya kepada Sang Khalik, minimal 34 kali sujud dalam sehari menunaikan shalat fardlu 17 rakaat sebagai pengakuan manusia yang lemah dihadapan Allah SWT. Apakah ditekemukannya sajadah di antara serpihan-serpihan kapal dapat dikatakan ada pesan khusus dari langit untuk kita? Wallahu a’lam.

Terlepas dari telah diketemukannya sajadah di tengah serpihan-serpihan KRI Nanggala-402 yang mungkin kita hingga kini belum bisa mengambil hikmahnya, namun kiranya layak tenggelamnya kapal ini jika kita kaitkan dengan sebuah pertanyaan dari beberapa pertanyaan Imam Al Ghazali kepada para muridnya.

Alkisah suatu hari Imam Al Ghazali bertanya beberapa pertanyaan kepada para muridnya. Salah satu pertanyaan dari beliau: Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Jawab para muridnya, ada yang menjawab yang paling dekat ibu, ayah, kakak, adik, Om, Uwa, dan Bapak/Ibu Guru. Jawaban Sang Imam sangat mengejutkan para muridnya. Kata Sang Imam: Jawaban kalian itu benar, tetapi hakikatnya yang paling dekat dengan diri kita ini adalah “mati”. Karena janji Allah SWT tentang kematian mutlak kebenarannya, sebagaimana tersirat dan tersurat pada awal ayat 185 Surat Ali Imran: “Kul-lu nafsin dzaa-iqatul maut” (Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati)

Narasi ayatnya “bukan” tersurat: “Tiap-tiap yang tua/yang sakit akan merasakan mati”, tapi tersurat : “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati”, arti di balik dari yang tersurat ini bahwa kematian pasti menghampiri setiap yang bernyawa. Dalam masalah kematian, bisa terjadi yang muda mendahului yang tua, bahkan bayi yang baru lahir pun dapat mendahului orang yang lebih muda maupun yang lebih tua. Demikian pula, orang yang sehat pun sangat dimungkinkan mati terlebih dahulu daripada orang yang sakit.

Berbicara soal kematian seperti yang menjadi salah satu jawaban Imam Al Ghazali tatkala menyampaikan pertanyaan kepada para muridnya tentang yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini, layak kiranya jika kita kaitkan dengan peristiwa tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 yang telah dinyatakan oleh Panglima TNI Hadi Tjahjanto, dalam konferensi pers, pada Ahad (25/4/2021) bahwa KRI Nanggala-402 telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, bahwa kematian sungguh paling dekat dengan diri kita. Pelajaran berharga dari tragedi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402, belum genap dalam hitungan sepekan setelah keberangkatan kapal selam untuk menjalani latihan, kelimapuluhtiga crew KRI tersebut telah meninggalkan kita semua. Kini, layak kiranya diri kita masing-masing mengadakan upaya perenungan sekaligus mengingatkan akan kematian yang sewaktu-waktu menjemput diri kita.

Tragedi KRI Nanggala-402, semoga menambah kuat keyakinan dan keimanan diri kita, bahwa betapa lemahnya diri kita dihadapan-Nya, kita hanyalah makluk-Nya yang “Laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Kita doakan seluruh crew yang gugur, semoga mereka memperoleh rahmat, ampunan, dan karunia-Nya untuk menempati surga-Nya. Dan keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.