Home Nasional Daerah In Memoriam: Tjetje Hidayat Padmadinata

In Memoriam: Tjetje Hidayat Padmadinata

0
Tjetje Hidayat Padmadinata/ist

Dr. HC Rd. Tjetje Hidayat Padmadinata (89 tahun), tokoh senior Jawa Barat — telah tiada. Jelang sore Rabu ini, dalam perawatan intensif di RS Hasan Sadikin Bandung. Meninggal dunia pk 16.45 wib.

Almarhum adalah aktivis dan politisi tiga zaman. Sejak masa orla, orba hingga orde reformasi. Sebagai politisi, Kang Tjetje — sapaan akrabnya pernah menjadi anggota MPR/DPR RI selama empat periode. Di antaranya tiga kali terakhir secara berturut. Masa bakti 1971-1977, 1987-1992, dan1992-1997 — Komisi I Bidang Luar Negeri. Pascareformasi 1998, Tjetje kembali ke Senayan. Anggota MPR/DPR RI 1999-2004, Komisi II Bidang Dalam Negeri.

Almarhum sebagai budayawan, politisi, wartawan, dan aktivis pergerakan. Daripadanya diperoleh sejumlah penghargaan. Beliau dikenal dengan sikap kritis. Gaya bicaranya meledak-ledak, tanpa “tedeng aling-aling”.

Tjetje Padmadinata adalah tokoh sentral ormas Angkatan Muda Siliwangi. Bersama antara lain almarhum Tatto S. Pradjamanggala dan Djadja Soebagdja. Menjadi Ketua AMS pada 1974.

Lahir di Bandung, 22 Juni 1933 — Tjetje muda mengenyam pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di PTPG (kini Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), Bandung. Selanjutnya pada jurusan Hukum Internasional, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Universitas Padjadjaran.

***

Berlatar pendidikan sastra, almarhum dikenal sebagai penulis karya sastra. Berlanjut kolomnis politik di surat kabar “Pikiran Rakyat” Bandung.

Sejumlah karyanya beredar luas. Antara lain “Setengah Abad Perlawanan 1955-2005” (2006), “Identitas Bandung” (2010), “Siliwangi & Demokrasi” (2010), “Siliwangi Militer di Mata Siliwangi Sipil” (2011), “Menembus Sekat-sekat Budaya” (2011), dan “Setengah Abad Perlawanan 1955-2005” (2006).

Dalam orasi ilmiah, saat menerima gelar Honoris Causa Bidang Politik Universitas Pasundan Bandung — Tjetje menyampaikan berbagai fakta tentang kehidupan di republik. Menurutnya, selain banyak komprador — banyak pula peselancar politik yang telah membajak reformasi dengan melanggengkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Tjetje menyatakan, dalam perikehidupan bernegara-bangsa _(nation states)_ Republik Indonesia 17 Agustus 1945 — dasar negara (Pancasila) dan bangun dasar negara tak diubah-ubah lagi. Dalam manajemen (tata kelola) pemerintahan nasional-lokal, sistem otonomi daerah (bukan negara federal) sudah tepat, tinggal perbaikan dalam pelaksanaannya.

Kualitas kenegarawanan Angkatan 1928, sejauh ini tak tertandingi, yakni jujur, bersih, cerdas, mengabdi, dan berkorban demi Indonesia (Nusantara). Demi persatuan nasional Indonesia yang benar dan adil, sistem panggung tunggal Jakarta harus diubah menjadi sistem ibu kota-ibu kota provinsi.

Ia dianggap tokoh pendobrak yang mendahului zamannya. Konsekuensi dari sikapnya itu, sejak 1960 Kang Tjetje mesti merasakan pahit getirnya menjadi tahanan politi. Ia dituduh sebagai mahasiswa pendukung Gerakan Perdamaian Nasional (GPN). Saat itu ia konseptor Brigade Mahasiswa Perdamaian Nasional. ”Ketika saya ditahan di Cipinang, keanggotaan MPR/DPR saya tidak dicabut,” ujarnya.

Tjetje aktif menulis sejak 1960 sebagai sastrawan, kolumnis, dan jurnalis. Tulisannya terkait dengan komitmennya terhadap masalah kenegaraan dan politik, baik lokal, nasional, regional, maupun internasional. Selain sekolah formal, dia juga seorang otodidak sejati dan sejak muda rajin ”memungut” ilmu dari banyak tokoh besar pada masa pergerakan, seperti Raden Adipati Arya Wiranatakusumah, Ema Bratakusumah, Sukanda Bratamanggala, Mayjen Suwarto, dan Zulkifli Lubis.

Selain menulis, ia juga sering menjadi narasumber dalam seminar, simposium, dan kuliah umum. Selalu aktif mengikuti diskusi ilmiah yang membahas persoalan sosial, kebudayaan, terutama politik secara akademis. Di samping ratusan judul artikel yang khusus diperuntukkan bagi peristiwa tertentu, ia juga menulis sejumlah buku.

Kalangan elite Indonesia mengenal Tjetje sebagai pengkaji ilmu politik, politisi multitalenta, sekaligus politikus yang teguh dalam memelihara integritas atas dasar moralitas dan budaya adiluhung. ”Atas dasar semua itu, Kang Tjetje layak mendapatkan gelar doktor honoris causa,” ujar Profesor Rusadi Kantaprawira, ketua tim promotor. Sampai memasuki usia senja, politisi itu tetap aktif walau tak memiliki jabatan apa pun.

Selamat jalan, Kang Tjetje.***

– imam Wahyudi
wartawan senior di bandung

Previous articleINSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG LANTIK WAREK
Next articleRakyat Berjuang Sendiri? Hasilnya buat Partai?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.