Home BUDAYA WAWANCARA dengan Jus Soema Di Praja : Roda Politik Berputar Sama Seperti...

WAWANCARA dengan Jus Soema Di Praja : Roda Politik Berputar Sama Seperti Rezim Lama

0
Wartawan Veteran Jus Soema di Pradja bersama Aendra Medita/dok

Wartawan itu harus punya integritas. Zaman kini tak banyak wartawan yang mau tahu banyak dan mengenal anatomi kasus-kasus bahkan sampai soal sosok, tokoh atau figur yang muncul secara lebih dalam, tahu siapa mereka, banyak yang tidak ditelesuri oleh wartawan saat ini. Kasus-kasus muncul, yang  paling rame selalu korupsi  tapi media itu harusnya bukan hanya mengungkap soal korupsi semata,demikian ungkap Jus Soema Di Pradja. Berikut adalah petikan lengkapnya hasil wawancara secara lengkap. Selamat membaca….!!!

POROSNEWS.COM — “Cara diatas saya sampaikan itu sangat perlu, namun ada yang lebih baik di ungkap tentang ruang perjalanan kisah-kisah dan tanda tanda lainnya dalma sebuah pemberitaan yang benar,” ungkap Jus Soema Di Pradja (76) Wartawan Veteran yang Redaksi temui di rumahnya di Depok Jawa Barat.

Tanda-tanda lain ini yang bagi saya sangat perlu ingin tahu dalam pendangannya. Pertemuan saya dengan tokoh yang pernah menjadi Wartawan Harian Indonesiua Raya bersama Moctar Lubis ini berkisah banyak soal hal ihwal yang disebut tanda-tanda itu. “Tanda yang dimaksud adalah soal tanda yang circle dimana saat ini polanya sama. “Ini mirip zama masa dulu dan masa ini lebih parah,”ungkapnya tegas.

Pertemuan saya dengan Bang Jus ini kali kedua sebelum tahun 2020 September  dimasa pandemi ketat-ketatnya saya bersama wartawan senior Tjahja Gunawan silaturahmi dengan beliau.

Hanya sebuah gambaran saja secara khusus saya dari dulu sudah mengenal Bang Jus, namun waktu begitu panjang saya baru dipertemukan dalam satahun ini secara serius dan komunikasi tak pernah putus. Dialog dengannya lewat saluran WA menjadi sarana lebih akrab dan makin paham dan nampaknya Jumat kemarin Bang Jus meminta khusus secara empat mata saya diundang, bagi saya ini sebuah silaturahmi yang sublim bahkan gurih, menarik dan daging semua yang jadi pembicaraan itu.

Pertemuan Jumat berkah ini bagi saya dengan Veteran Jurnalis ini adalah sebuah berkah dari kisah Pers Indonesia bukan sekadar histoical, namun kontaks kekinian menjadi benang merah dari saksi yang tak bisa ditepiskan. Saya melihat Bang Jus adalah ruang cakrawala yang menyimpan catatan penting, meski “mungkin” ada banyak yang tak tahu atau tahu namun akhirnya di buat samar, bahkan “sedikit” mengubur masa kegelapan kolaborasi pers yang bersekongkol karena tak mandiri atau tak berpijak pada rel independen.

Untuk soal ini dia telah jelaskan panjang lebar bahwa pengalaman sebagai wartawan di Harian Indonesia Raya bersama Mocthar Lubis dan sempat berlabuh di Kompas dan berkawan baik dengan Jacob Oetama

Bagi saya bang Jus adalah satu dari sekian banyak orang yang pernah bergelut di media yang berani dan punya sikap.

Bang Jus ia bukan orang sembarang, sebelum membuka obrolan dengan saya ia paparkan dulu silsilah panjang lebar. Saya lagi-lagi terbelalak dengan kisahnya Putra dari Mr. Ma’mun Soema di Pradja Menteri Dalam Negeri Pasundan zaman Soekarno ini memang Veteran Wartawan.

Baiklah kita mulai saja. Pada tahun 60-70-an  Jus adalah wartawan Indonesia Raya dan pada tahun 1976-1978 menjadi wartawan KOMPAS dan ia mengaku mundur dari Kompas–sambil menunjuk surat pengunduran diri dari KOMPAS yang diapajang diruang tengahnya– Ini Tanggal 13/02/1978 adalah momentum penting bagi saya, jelasnya.

“Genap 29 tahun saya keluar dari KOMPAS, saat besoknya KOMPAS ulang tahun. Alasannya keluar adalah karena KOMPAS dan beberapa media lainnya saat itu telah melakukan Penandatanganan Perjanjian dengan Pemerintah Indonesia (Suharto) yang saat itu diwakili oleh Jakob Oetama. Nurani saya mengatakan KOMPAS sudah melanggar etika Pers dengan melakukan kompromi dengan Pemerintah,”jelasnya.

Menurut Jus ia sejak saat itu berhenti total menjadi wartawan. “Begitu juga yang dilakukan oleh TEMPO tahun 1982 setelah kejadian kasus Lapangan Banteng makanya sangat wajar bila TEMPO dibredel tahun 1994 karena Pemerintah menganggap TEMPO telah melanggar isi Perjanjian. Datanya ada semua,” beber Jus sambil meberikan copy data itu.

Nama Jus Soema di Pradja sebelum kerja di KOMPAS, adalah Wartawan Harian Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis. Koran Indonesia Raya sangat disegani dan media ini bisa disebut paling berani, sejumlah catatan telah tercatat. Indonesia Raya pernah membongkar kasus Korupsi Pertamina yang dipimpin oleh kerabat dekat Cendana yaitu Ibnu Sutowo.  Soal kasus ini sebenarnya kehebatan dari Mochtar Lubis yang melakukan Investigasi terhadap kasus Pertamina yang jadi sarang penyamun (korupsi) besara tersebut. “Kalau kami-kami yang di Indonesia Raya hanya menindaklanjuti,”jelas Jus menyampaikan kepada saya. Jus juga menyodorkan satu kliping Majalah TEMPO Mei 2000 yang mana ada Wawancara Khusus Priyatna Abdurrasyid seorang Jaksa Muda Intelejen yang tahu sejumlah kasus salah satunya pada masa Orde Baru  terutama soal kasus Mark-Up di Pertamina.

Menurut Jus Tempo memuat detail wawancara dimana Priyatna Abdurrasyid terpental dan dicopot Jabatannya. Priyatna Abdurrasyid bertutur dalam TEMPO itu bahwa pada tahun 1967 Jaksa Agung Soegih Arto memerintahkan agar Priyatna Abdurrasyid masuk Tim Pemberatasan Korupsi (TPK). “Anggota TPK bukan hanya jaksa. Ada Polisi, tentara, bahkan wartawan. Suatu waktu Jaksa Agung memerintahkan saya agar saya meriksa penyelundupan Pupuk dan kasus korupsi Pertamina. Kami dapat banyak bantuan informasi dari media masa dalam kasus ini,” ujar Priyatna Abdurrasyid  dilansir TEMPO 14 Mei 2000.

Klipinglah yang sampaikan Jus dan memang ada yang menarik dari kutipan itu, bahwa yang diumaksud media adalah koran Indonesia Raya yang pernah menulis panjang soal korupsi Pertamina. Koran Indonesia Raya memiliki data banyak. Bahkan Pemimpin Redaksi Indonesia Raya diminta ijin agar TPK izin menyalin  bahan-bahan korupsi yang di miliki Indonesia Raya. “Saat itu ada banyak bahan dan belum ada fotocopy, jumlahnya dua karung lebih, dan akhir yang menyalin secara manual dengan harganya saat itu tahun 1968 harga Rp 25 ribu. Jumlah itu besar saat itu,” jelas Jus.

Kisah dari Jus soal Pertamina yang di bongkar Koran Indonesia Raya ini sangat menarik dan menjadikan beriat besar dan Mochtar Lubis pun harus berurusan dengan hukum. Namun sebagai media yang kuat dan independen saat itu memang risiko kalau selalu berlawananan dengan rezim yang merugikan bangsa.

Kisah Bang Jus memang penuh warna ia memiliki banyak data. Ia juga mengaku secara pengalaman ia mengaku bangor (bandel), dia bahkan mengaku duduk dibangku SMP saja 6 kali, kerena waktu muda bandel itu, tapi itu ia syukuri dan bahkan senang bahwa ada sejumlah kawan SMP-nya itu menjadi Jenderal, dan ia juga tak sempat menyelesaikan  Fakultas Hukum di Universitas Indonesia (UI) karena keburu larut jadi wartawan yang kerjanya tak kenal waktu.

Jus Soema di Praja  siang itu memang sudah menyambut syaa wartawan  junior yang jaraknya jauh. Lama ia menerima saya dari siang sampai sehabis magrib. Kalau tak ada hal lain saya mungkin akan bisa sampai pagi ngobrol apapun. Berbincang dengan Jus  penuh gairah dan inspirasi saya terbangun bicara soal media sampai politik dari dulu sampai konteks kekinian.

“Tapi intinya jika untuk Pers saat ini sekarang sepertinya hanya cari aman saja. Makanya saya tak terlalu percaya media Mainstream. Ia juga mengakui semua tahulah siapa pemilik-pemilik media besar elektronik. Tapi Pers sekarang diberi kebebasan yang sangat luas, Tapi tidak paham apa itu kebebasan. Mereka gagap,” katanya.

Bicara Media bagi Jus Soema di Praja saat ini juga berbicara soal politik dimana dia melihat bahwa politik Indonesia ini dalam circle yang sama. Putaran yang peristiwa kini sudah ada sejak lama dan sama polanya ini semua terjadi sejak 1960-an dan kini terulang kembali,katanya.

Bang Jus ternyata sangat sangat concern kepada media namun saat ini baginya media masih dianggap makin jauh dari harapan. “Saya hanya ingin bicara media saat ini jauh dari harapan,” jelasnya.

Tentang Jus Soema di Pradja saya ingin mengutip tulisan Mochtar Lubis di Majalah Prisma No 11 Desember 1978, hal 38  berjudul Etos Pers Indonesia yang jelas Jaman Mocthar Lubis, Menarik sekali  melihat mereka memimjam ketentuan-ketentuan bagi pers yang ditetepkan oleh Rezim Sukarno dahulu. Seorang wartawan  dari salah satu harian yang ditutup Jus Soema di Pradja (dan sepanjang pengetahuan saya satu-satunya diantara ratusan wartawan yang ada di Jakarta) segera menyampaikan permohonan berhenti, karena tidak melihat kemungkinan lagi surat kabarnya akan berfungsi sebagai pers yang bertanggungjawab.

Jus Soema di Pradja mengatakan bahwa penanda-tangan kedua pernyataan tersebut mengandung implikasi, seakan para pemimpin suratkabar mengakui telah melanggar kode etik jurnalis Indonesia, dan telah melakukan segara rupa penyimpangan dari tugas dan tanggung jawab pers Indonesia sendiri, dan dengan demikian telah menghukum diri sendiri. Tulisan Mocthar Lubis ini menarik karena oleh Jus menjadi contoh dari sekian banyak orang yang punya sikap tegas. Mocthar melihat Jus sangat objektif dan sikap Jus adalah satu cermin bahwa pada tahun 70an itu seorang Jus memang punya sikap idealisme yang kuat sebagai jurnalis.

Jus Soema di Praja memang yang kita tahu wartawan yang mumpuni. Pada bagian 1 yang ditulis bahwa setelah dari Harian Indonesia Raya maka Jus pernah kerja di tahun 1976-1978 menjadi wartawan KOMPAS, meski akhirnya mundur dari Kompas.

Mundurnya Jus karena KOMPAS dan beberapa Media lainnya saat itu telah melakukan Penandatanganan Perjanjian dengan Pemerintah Indonesia (Suharto) yang saat itu diwakili oleh Jakob Oetama. “Nurani saya mengatakan KOMPAS sudah melanggar etika Pers dengan melakukan Kompromi dengan Pemerintah sikap saya jelas,” katanya.

Jus juga cerita bahwa mulai saat itulah saya berhenti total menjadi Wartawan. Dan ingat juga bahwa bukan hanya Kompas yang begitu, media seperti dilakukan oleh TEMPO tahun 1982 setelah kejadian kasus Lapangan Banteng makanya sangat wajar bila TEMPO dibredel tahun 1994 karena Pemerintah menganggap TEMPO telah melanggar isi Perjanjian.

Jus Soema di Praja  mengaku bahwa menjadi wartawan Harian Indonesia Raya yang Pimpinan Mochtar Lubis ini merupakan satu kebanggaan tersendiri.

“Saat itu memang banyak media ada suratkabar Pedoman, ada Suratkabar Nusantara, namun kebanggaan saya di Indonesia Raya sangat disegani karena media ini memiliki independensinya,” jelasnya.

Harian Indonesia Raya memang pernah membongkar kasus Korupsi Pertamina yang dipimpin oleh kerabat dekat Cendana yaitu Ibnu Sutowo.  Soal kasus ini sebenarnya kehebatan dari Mochtar Lubis yang melakukan Investigasi terhadap Kasus Pertamina tersebut. “Kalau kami-kami yang di Indonesia Raya hanya menindaklanjuti,”kisah Jus.

Jus Soema di Praja menyampaikan bahwa lagi-lagi soal kebebasan pers yang dimata dia saat ini gagap meski sekarang diberi kebebasan yang sangat luas, tapi tidak paham apa itu kebebasan yang sebenarnya. Ketajaman analisa Jus sebagai wartawan veeran ini selain  keras kepala dan kekuatan idealismenya.

Pernah menjadi wartawan KOMPAS, meski akhirnya mundur dari Kompas. Dengan alasan mundurnya Jus karena KOMPAS dan beberapa Media lainnya saat itu telah melakukan Penandatanganan Perjanjian dengan Pemerintah Indonesia (Suharto) yang saat itu diwakili oleh Jakob Oetama.

Nurani saya mengatakan KOMPAS sudah melanggar etika Pers dengan melakukan Kompromi dengan Pemerintah sikap saya jelas,” katanya.

Tapi sayang bukti-bukti penting tentang Sejarah Pers Indonesia masa lalu tidak pernah terpublikasikan seolah terkubur, padahal kalau dari pengakuannya, bahwa Jakob Oetama yang pernah bersaksi ahli dalam Pemberedelan TEMPO hingga Hakim Agung Benyamin Mangkudilaga memenangkan TEMPO atas kesaksian Jakob Oetama adalah hasil bujukan dia. “Saat itu padahal Jakob awalnya tak mau bersaksi ahli karena sudah penuh tekanan dari Dirjen Subrata dan Menpen Harmoko, tapi Jakob tetap dibujuk dan akhirnya mau,” kenang Bang Jus. Ah sudahlah itu kisah lama tapi saat berkisah Jus memang suka loncat-loncat dan jika wartawan yang tak bisa nangkap dan menyimak dengan baik akan susah merajut kisah Bang Jus ini.

Saat saya diskusi dan silaturahmi ini ada rasa yang termemori dalam otak saya, terkadang kisah yang sepotong-sepotong ditemukan masa lalu terjawab saat Bang Jus bertutur secara detail. Bagi saya yang sering mendengar kisah-kisah lain dibelakang  berita lebih menarik dan yang saya peroleh sehingga saya mencoba mengunyah dan menyusunnya dalam benak ini dan saya bilang bahwa ini sedikit banyak terurai gambaran tentang apa dan siapa sajanya yang ada dalam pers Indonesia yang terceritakan itu.

Untuk itu saya ingin menutup Catatan dengan Jus Soema Di Praja ini dengan mengutip pernyataan Mochtar Lubis  yang menulis, nasib pers tidak dapat dipisahkan dari nasib seluruh rakyat pula. Sementara itu keperluan bangsa kita untuk mencari kebenaran tidak berkurang dalam dunia yang telah menjadi serba pelik ini. Orang yang tidak berhasrat mencari kebenaran adalah seorang biadab secara intelektual, begitu Mochtar Lubis mengutip Ortega Y Gasset seorang filsuf spanyol. “Kita ingin pers Indonesia kinipun agar berupaya membuat pencarian kebenaran ini jadi etosnya,” tulis Mochtar Lubis (Prisma Desember 1978, Etos Pers Indonesia). Dan pesan Mochtar Lubis itulah yang memang sejalan dengan pernyataan Bang Jus di atas bagian tulisa akhir ini, media kita masih jauh dari harapan dan jawaban sebenarnya adalah harusnya membuat pencarian kebenaran yang jadi etosnya.

Akhirnya ada pertemuan ada perpisahan dan akan berjumpa kembali dalam satu waktu yang terus berlajut yaitu silaturahmi dan tak akan putus. Dan dia sampaikan bahwa saat ini kita harus waspada karena keadaan negeri ini sekarang  super-super krisis, ungkapnya.

Salam takjim Bang Jus Soema di Praja.

PEWAWANCARA AENDRA MEDITA adalah wartawan yang belajar terus.

Sumber tulisan: JAKARTASATU.COM 

Previous articleYang Mahal Di Indonesia Itu Adalah Membiayai Oligarki Konglomerat Busuk
Next articleKrisis Moneter Dan Krisis Ekonomi Semakin Dekat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.